My Autobiografi, An Endless Journey

>> Tuesday, September 29, 2009

OTOBIOGRAFI:
I MADE DWIJA SUASTANA
*Perjalanan Tiada Akhir*
________________________________________


I Made Dwija Suastana, adalah pencetus lahirnya organisasi kepemudaan/mahasiswa di kampus Universitas Warmadewa pada tahun 2005. Organisasi ini diberi nama Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Warmadewa, yang biasa disingkat PMHD UNWAR. Di organisasi inilah Dwija, Demikian lelaki ini akrab dipanggil, memperpanjang kiprahnya sebagai generasi muda yang kreatif dan nasionalis. Disamping itu, ia juga sebagai seorang pekerja di sektor pariwisata yang ulet.
Berikut tersaji otobiografi putra bangsa kelahiran Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada tanggal 23 Oktober 1979 ini, sebagai berikut:
…………………………………………………..

Sejarah dan Gambaran Diri

Pengantar
Gambaran diri seseorang tidaklah terbentuk seketika. Ia dinamis dan bertalian dengan proses belajar seseorang. Saya memberi judul tulisan ini “Sejarah dan Gambaran Diri”. Tulisan ini dibagi pada beberapa sub berdasarkan tingkat pendidikan. Memang tidaklah mudah menulis gambaran diri. Karena, batas antara menyampaikan fakta dan keinginan manusiawi “dihargai” teramat tipis.

Sebuah “auto-biografi” cenderung menyampaikan informasi selektif. Oleh karena itu, saya bertumpu pada “kesadaran” bahwa banyak orang lain mengalami hal luar biasa dalam perjalanan menuju kematangan. Sehingga, saya dapat lebih objektif “menilai” diri sendiri.

Semasa SD (Sekolah Dasar): Putra Seorang Pendidik

Orang tua saya adalah sosok ideal orang tua masa kini yang modern, keras dan ulet. Ayah saya, bernama Drs. I Made Purwa Astawa, seorang pensiunan guru, mantan pengawas sekolah dan mantan kepala sekolah SD. Pengabdian beliau yang lebih dari 30 tahun sebagai tenaga guru membuahkan sebuah lencana emas dari Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ibu saya, bernama Ni Nyoman Sudani, SPd. Saat ini beliau masih aktif sebagai tenaga pengajar dan Kepala Sekolah Dasar di desa tempat kami berasal.

Orang tua kami menikah pada awal tahun 1976. Saya adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak perempuan saya saat ini sudah menikah dan dikarunia 3 orang anak.Sedangkan adik laki-laki saya juga sudah mendahului menikah dengan dikarunia seorang anak perempuan. Sekarang tinggal saya saja yang masih membujang.

Ayah saya, adalah seorang yang keras, rajin dan penyayang. Beliau juga keras dalam mendidik saya. Pernah suatu ketika, pada saat kelas 1 SD, nilai rapor saya jelek karena waktu itu saya belum bisa membaca. Akibatnya, saya “kesepekang” hampir selama 1 bulan oleh ayah saya. Namun, dengan semangat “jengah” saya pun puputan belajar dengan bimbingan kakak perempuan saya, agar bisa membaca. Dan pada akhirnya, menginjak kelas 2, nilai rapor saya menanjak dan saat kelas 3, saya mendapat juara III di kelas. Menginjak kelas 4, saya mendapat tugas tambahan dari Ayah untuk memelihara bibit anggrek dirumah. Alhasil, setiap hari pulang sekolah, sore harinya saya bertugas menyirami kebun anggrek yang cukup luas di halaman rumah. Rumah kami cukup luas dan rindang khas pedesaan. Tepatnya di Banjar Karangjung, Desa Sembung, Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Memasuki kelas 5, saya mendapat kepercayaan untuk mewakili sekolah saya yakni SD No.3 Sembung dalam lomba murid teladan tingkat koordinator desa Sembung. Namun hasilnya sangat mengecewakan saya, untuk pelajaran matematika saya hanya mendapat nilai 3. Saya gagal bersaing dalam ajang murid teladan ini. Dan kelemahan yang masih saya warisi sampai sekarang adalah saya kurang mahir berhitung.

Ibu saya yang juga seorang guru, memiliki sifat lembut dan perhitungan secara ekonomis. Beliau juga sangat menyayangi anak-anaknya. Kami selaku anak-anaknya sangat bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi karena memiliki orang tua lengkap yang mengasihi kami.

Hal yang tidak pernah saya lupakan adalah tatkala ayah saya mendongeng/bercerita dongeng Bali, tentang Kisah Siap Selem(kisah Si ayam hitam), yang begitu terkenal masa anak-anak saya. Terlebih, beliau banyak sekali menanamkan nilai-nilai kebajikan pada cerita itu. Dan, mendongeng ini biasanya dilakukan sewaktu saya dan saudara-saudara akan berangkat tidur. Menginjak kelas 6, saya sudah siap-siap akan memilih sekolah SMP. Keinginan saya adalah sekolah di SMP Negeri dekat rumah, namun, ayah saya bersikeras agar saya sekolah SMP di SMP favorit di Kota Mengwi, sekitar 10 km dari desa saya. Saya lulus SD tahun 1991 dengan hasil cukup baik. Dan pada akhirnya saya “dengan terpaksa” sekolah di SMP pilihan ayah saya.

Semasa SMP: Ketua Kelas, Pramuka dan Naik Sepeda

Saya masuk SMP pada tahun 1991, bersekolah tepatnya di SMP 1 Mengwi. Dan atas saran ayah, saya dititipkan kepada saudara Ibu yang berada di Desa Mengwi. Kebetulan rumah asal Ibu saya adalah dari Mengwi. Sebenarnya, alasan orang tua menitipkan saya disana adalah agar saya belajar hidup mandiri, lepas dari orang tua dan hidup sederhana. Dan saya diperbolehkan pulang setiap malam minggu. Disamping itu, kebetulan saudara sepupu di Mengwi ini, ketiganya pintar-pintar, semua berpredikat juara kelas. Mungkin harapan ayah, kepintaran mereka bisa menular kepada saya, atau paling tidak saya bisa belajar kepada mereka.

Tinggal bukan dengan orang tua kandung, sejujurnya sungguh tidak mengenakkan. Saya jadinya belajar menyesuaikan diri. Paman dan Bibi saya menerapkan pola hidup sederhana dan bersahaja. Walau mereka keduanya adalah pegawai negeri. Paman saya, seorang kepala sekolah pada masa itu, sedangkan Bibi, pegawai negeri sipil di kantor BKKBN. Awalnya memang cukup berat, tapi lama-kelamaaan jadi terbiasa.

Masa SMP, saya lalui dengan cukup baik. Walau tanpa prestasi yang membanggakan. Namun, pada masa itu, pengenalan terhadap Pancasila melalui Penataran P4 saya resapi dengan sangat positif nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Terlebih saya punya seorang guru PMP(Kewarganegaraan sekarang), yang sangat cerdas yakni, Ibu Christiana Laure, dari NTT. Butir-butir luhur Pancasila,benar-benar tertanam secara apik dalam sanubari saya terlepas dari apa yang terjadi terhadap perjalanan pengajaran Pancasila tersebut. Namun, bagi saya Pancasila adalah masih sangat relevan sebagai pedoman bangsa Indonesia yang plural ini sampai kapanpun.

Di SMP, saya sempat jadi ketua kelas beberapa kali, bahkan dibidang ekstra kurikuler Pramuka, saya sempat beberapa kali mewakili sekolah dalam acara-acara kepanduan tingkat kabupaten Badung yang pada masa itu masih menyatu dengan kota Denpasar. Yang paling membuat saya bangga waktu saya jadi anggota pramuka, adalah ketika di pundak saya ada tanda kecakapan khusus pramuka, yang bernama TKK(tanda kecakapan khusus), berupa pin kain yang langsung menempel di baju coklat pramuka saya, apalagi ketika saya mendapatkan selempang kebesaran pramuka, terasa sangat gagah waktu itu.

Pada kesempatan senggang, saya paling senang jalan-jalan naik sepeda keliling kota kecil Mengwi bersama teman-teman. Bahkan seringkali waktu kami isi dengan main-main ke Pura Taman Ayun yang tamunya cukup ramai. Disini, kemampuan bahasa inggris saya mulai muncul. Seringkali saya iseng menyapa tamu-tamu yang berkunjung ke Pura kerajaan Mengwi ini.
Saya menamatkan SMP pada tahun 1994. Pada awalnya sesuai dengan ketertarikan saya terhadap pelajaran bahasa Inggris, saya ingin melanjutkan ke sekolah pariwisata. Namun, lagi-lagi, ayah saya mengalihkan cita-cita saya. Ayah menyarankan saya untuk melanjutkan ke sekolah menengah umum, bukan langsung ke sekolah kejuruan. Hati kecil saya berontak. Tapi apa daya, tak kuasa menolak keinginan orang tua. Ibu saya, hanya bisa pasrah menuruti kehendak ayah. Lagi-lagi, ayah menjadi ‘batu sandungan’ keinginan saya sekolah di SMIP(Sekolah Menengah Industri Pariwisata), dan akhirnya saya diterima di sekolah umum. yakni, SMAN 1 Mengwi.

Semasa SMA: Pemalu, lomba gerak jalan dan Paskibraka

Seperti anak-anak remaja pada umumnya, umur 15 tahun keatas adalah usia yang rawan. Dalam arti usia peralihan dari anak-anak ke masa remaja. Demikian juga saya, menjelang tamat SMP dulu, sudah mulai timbul rasa suka terhadap lawan jenis. Namun, ternyata, jiwa pemalu yang melekat dari diri saya menjadi faktor dominan yang menghalangi. Masa-masa SMA saya lewati dengan biasa-biasa saja. Terkait dengan hubungan dengan lawan jenis, jujur, termasuk banyak teman perempuan yang mendekati saya. Namun, rasa minder dan malu lah yang menghalangi saya untuk mendekatkan diri ke mereka.

SMAN 1 Mengwi, adalah salah satu sekolah unggulan di daerah saya. Tidak heran, kegiatan yang berskala cukup besar selalu menghampiri aktifitas almamater saya. Dari sekian kegiatan intra sekolah yang saya pernah ikuti diantaranya adalah lomba gerak jalan, paskribaka tingkat kecamatan (kebetulan waktu itu bertepatan dengan perayaan 50 tahun Indonesia emas). Jadi, setiap kecamatan seluruh Indonesia, wajib membentuk tim paskribaka lengkap seperti format tim paskibraka di pusat Jakarta. Nah pada saat itu saya menjadi pasukan inti pengibar bendera merah putih, bergabung di pasukan 8. Jiwa nasionalisme saya yang terpupuk sejak Sekolah Dasar, kembali dibakar dengan kegiatan-kegiatan pada masa SMA. Ada kejadian menarik dan tidak akan pernah saya lupakan. Waktu itu, 17 Agustus 1995, saya sebagai pasukan pengibar bendera saya kebagian mengulur tari bendera. Pada saat latihan dan geladi resik, semua lancar-lancar saja. Namun pas hari H-nya, ada kecelakaan fatal. Saya melakukan kesalahan pada saat memberikan tali bendera kepada teman. Mestinya saya memberikan bagian tali yang harus diulur oleh teman saya. Tapi, saya mengulurkan bagian yang untuk ditarik. Tak ayal, terjadilah saling tarik-menarik antara saya dan teman sesama paskibraka tersebut. Untung, ada salah satu guru yang bertugas melihat kejadian ini. Saya dibisiki untuk menarik tali tiang bendera merah putih tersebut. Kejadiannya seper sekian detik, drumband Indonesia raya sudah berkumandang, saya masih tarik-tarikan dengan teman tadi. Namun, syukurnya, bendera merah putih dapat sampai dengan selamat di angkasa lapangan umum Mengwi waktu itu.

Saya sangat menyesali kejadian itu. Saya gagal menjalankan tugas dengan sempurna. Sampai saya menangis sejadi-jadinya waktu itu. Karena tugas mengerek bendera merah putih tidak bisa saya jalankan dengan sempurna. Beberapa Pembina dan guru saya mencoba menenangkan saya. Alhasil, setiap ada tayangan 17 Agustusan, saya selalu ingat kejadian ini.

Saya akhirnya lulus SMA tahun 1997. Oleh Ayah, saya diarahkan untuk melanjutkan ke STPDN(Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) yang terkenal sekolah calon pengawai negeri sipil itu. Sejujurnya saya menentang keinginan ayah saya. Karena saya ingin melanjutkan ke sekolah pariwisata STP (Sekolah Tinggi Pariwisata), Nusa Dua. Namun, lagi-lagi, ayah menjadi “batu sandungan”. Tapi, tak mengapa demi bakti saya pada orang tua, begitu pikir saya waktu itu.
Serangkaian tes STPDN saya jalani, namun karma berkata lain, saya gagal. Saya kecewa, saya marah, saya benci dengan ayah waktu itu. Padahal saya harus mengubur keinginan untuk ikut testing di sekolah lainnya demi sebuah sekolah idaman bernama STPDN ini.

Semasa Kuliah di LP3I: Pemulihan Kegagalan yang Berbuah Manis

Sempat 3 bulan uring-uringan, akhirnya saya iseng-iseng baca surat kabar. Ada sebuah lembaga diploma yang masih membuka pendaftaran. LP3I (Lembaga Pendidikan & Pengembangan Profesi Indonesia) Cabang Bali. Akhirnya saya diterima di lembaga ini. Saya mengambil program perhotelan jurusan Front Office. Singkat cerita, saya kuliah disini. Tapi saya harus ‘ngajag’atau pulang-pergi dari rumah di Sembung ke Denpasar untuk kuliah. Hal ini dikarenakan saya juga harus merawat kakek (sekarang almarhum yang waktu itu, sakit stroke. Di kampus LP3I ini, perlahan-lahan saya ‘menemukan diri’. Tiap hari penguasaan bahasa Inggris diasah. Mental saya dilatih untuk tampil didepan, belajar bicara didepan banyak orang. Kegiatan perkuliahan berjalan cukup bagus dan membuat saya nyaman. Dan, ditempat ini pun saya mulai mengenal organisasi secara lebih mendalam. Mula-mula saya menjabat wakil ketua panitia orientasi mahasiswa baru, dan puncaknya saya menjadi wakil ketua Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM), LP3I Bali untuk periode tahun 1998 – 1999. Saya sangat menikmatinya. Pelan namun pasti, saya mulai bisa melupakan kegagalan STPDN dengan menyibukan diri dalam kegiatan organisasi di FKM LP3I. Dan rasa benci karena menganggap ayah adalah sumber kegagalan saya pun akhirnya sirna. Malah sesungguhnya beliau adalah teman terbaik saya yang men-support saya luar dalam.

Saya tamat LP3I Bali akhir tahun 1999. tapi diwisuda pada awal tahun 2000. Tanpa diduga, saya ternyata masuk tiga besar lulusan terbaik. Pada saat wisuda, saya didaulat memberikan kesan dan pesan. Ini adalah momen pertama kali saya berada di depan ratusan orang undangan. Kaki gemetar, tapi saya memantapkan diri dengan berpidato tanpa teks selama kurang lebih 20 menit. Penuh dengan kritik membangun kepada almamater saya. Dan, aplaus panjang pun membahana begitu saya mengakhiri kesan dan pesan tersebut.

Saat Belajar Mencari Uang: Pindah-Pindah Kerja Mencari Pengalaman

Villa Lalu
Sebetulnya sebelum saya tamat dari LP3I, sebenarnya saya sudah mendapat pekerjaan walau hanya sebagai daily worker (tenaga harian) di sebuah Villa di Seminyak, Kuta pada tahun 2000. Namanya Villa Lalu. Gaji pertama saya waktu itu hanya Rp.169.225,-. Saya hanya kuat 3 bulan disana. Karena secara mental belum siap dengan tekanan bule yang menjadi owner di villa tersebut. Disamping juga penguasaan bahasa inggris saya waktu itu masih belum begitu mahir.

Pertiwi Resorts & Spa
Sebenarnya saya termasuk 'buruh' pelamar pekerjaan, begitu ayah saya bilang. Kenapa demikian karena, setiap ada lowongan di Koran, pasti saya iseng memasukan lamaran. Akhirnya saya mendapat panggilan di sebuah hotel di kawasan Ubud. Namanya Pertiwi Resorts & Spa. Inilah babak baru perjalanan saya mengenal kawasan Ubud secara lebih mendalam. Namun, ‘kegatalan’ tangan saya menulis surat lamaran belum juga hilang. Disaat saya sudah mendalami pekerjaan saya di bagian kantor depan, ada panggilan lagi dari hotel lain, yang masih di kawasan Ubud. Yakni, Ibah Luxury Villas(sekarang Warwick Ibah Luxury Villas). Saya di Pertiwi Resorts & Spa hanya bertahan 2 bulan 21 hari, karena terlanjur diterima di Ibah Luxury Villas ini. Kepindahan saya ke hotel Ibah ini, mengharuskan saya untuk kos di Ubud. Karena jarak dari rumah cukup jauh dan sistem kerja yang menggunakan sistem shift mengharuskan saya menghemat tenaga.

Ibah Luxury Villas
Saya mulai kerja di hotel milik keluarga Puri Ubud ini akhir tahun 2000 sampai dengan tahun 2003. Saya bekerja sebagai karyawan di bagian kantor depan. Banyak suka-duka saya alami disini. Banyak pula pelajaran berharga. Mulai dari harus belajar mandiri, karena saya kos, memperdalam bahasa Jepang, dan belajar mebraya atau bermasyarakat. Saya katakan demikian karena, sebagai hotel milik keluarga Puri, karyawan hotel banyak terlibat dalam segala macam bentuk aktifitas adat Puri, disamping bekerja di hotel. Mulai dari ngayah ke Pura, ngayah di keluarga Puri dan lain sebagainya. Itu semua saya lakukan dengan senang hati. Karena saya mendapat kesempatan untuk belajar. Bahkan di Ubud inilah saya akhirnya belajar membuat udeng/ikat kepala dari kain lembaran. Udeng atau kain ikat kepala khas Bali ini, saat ini lazimnya setengah atau langsung jadi. Kain udeng lembaran biasanya dipakai pada jaman dulu. Di hotel ini, saya mengembangkan diri saya dengan cukup baik. Pada suatu kesempatan di tahun 2002, saya ditugaskan oleh pihak manajemen untuk mewakili hotel dalam pameran dunia di Nusa Dua. Pameran bertajuk’World Sustainable Development Expo’ itu mempertemukan saya dengan teman-teman dari hotel-hotel pemenang penghargaan Tri Hita Karana Award. Kebetulan hotel tempat saya sebagai pemenang medali perunggu untuk kategori hotel butik. Logo Tri Hita Karana Award begitu menarik perhatian saya, yakni senjata Trisula yang oleh panitia lomba dipakai juga sebagai simbol Tri Hita Karana.

Terjadinya bom Bali yang pertama tahun 2002 sungguh menggoncangkan dunia pariwisata di Bali pada masa itu. Waktu itu, tamu-tamu banyak yang membatalkan kunjungan. Bali menjadi sepi dan ini berimbas pada nasib kami sebagai karyawan. Dalam satu bulan, saya hanya bekerja sekitar 15 hari. Bisa dibayangkan berapa pemasukan kami per bulannya. Kondisi ini membuat suasana hati saya gundah dan jenuh. Saya diliputi rasa bosan. Saya ingin melakukan hal lain yakni, kuliah lagi.

Saya diskusikan dengan kedua orang tua saya. Dan pada intinya mereka mendukung rencana saya, baik secara moral dan finansial. Kebetulan waktu itu, ayah saya belum pensiun. Waktu itu menjelang pertengahan tahun 2003. Saya memilih Universitas Warmadewa karena secara geografis cukup dekat dengan Ubud, tempat saya tinggal. Dan jurusan yang saya ambil adalah hukum. Kenapa hukum? Pertimbangan saya waktu itu, pariwisata setelah bom Bali tampaknya akan menjadi sulit, saya pikir untuk banting setir dengan menguasai bidang lainnya. Disamping sebenarnya saya ingin lebih mengasah kemampuan bicara saya. Akhirnya jadi juga saya mempunyai predikat, bekerja sambil kuliah. Bekerja di hotel kuliah di fakultas hukum Universitas Warmadewa. Sebuah predikat yang membanggakan saya.

Kuliah Sambil Bekerja: Pindah Ke Hotel Lain, Kuliah Jalan Terus

Sudah hampir 3 tahun saya bekerja di Hotel Ibah, ‘kegatalan’ tangan saya untuk melamar pekerjaan kambuh lagi. Saya mencoba melamar di sebuah hotel yang juga di kawasan Ubud, yakni hotel Puri Wulandari. dan Suksme Hyang Widhi, saya diterima. Proses kepindahan saya dari hotel Ibah ke Puri Wulandari berlangsung cukup alot. Karena owner hotel tidak mengijinkan saya untuk pindah kerja. Sampai-sampai saya harus mencari alasan yang kuat. Dan akhirnya mereka mengijinkan kepindahan saya dengan catatan saya akan diterima kembali kalau mau balik kesana lagi. Sungguh senang dan bercampur khawatir juga. Karena saya juga harus memikirkan kelanjutan kuliah.

Hotel Puri Wulandari
Ditempat ini saya mulai sekitar akhir tahun 2003, dibagian Resort Butler. Gambaran posisi ini adalah sebagai pelayan tamu di villa dan juga sebagai pengatur program tamu selama tinggal di hotel. Sejatinya, latar belakang saya adalah kantor depan, namun, pihak manajemen menantang saya untuk mencoba posisi baru ini. Awalnya memang berat juga, tapi seiring berjalannya waktu, saya mampu menguasainya dengan baik. Saya bersyukur kepada Hyang Widhi, waktu itu mampu mengatur jadwal kerja dengan kuliah saya di Universitas Warmadewa. Walaupun dengan konsekwensi, saya harus pulang-pergi Ubud – Denpasar demi sebuah cita-cita. Semua saya jalani dengan ikhlas dan tabah. Dukungan teman kerja dan pimpinan sangat positif terhadap saya. Dan tak henti-henti saya mengucap syukur dengan kondisi ini. Tuhan memang Maha Pengasih.

Berbagai Kesibukan: Bekerja, Kuliah & Organisasi

Jadwal sehari-hari saya sangat padat. Satu sisi, bekerja dengan sistem shift yang kerapkali berbenturan dengan jadwal kuliah. Disisi lain, setelah mengamati perkembangan di kampus saya, saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam pergerakan organisasi mahasiswa disana. Sumber daya Hindu di kampus Warmadewa kurang tergarap. Maka tidak mengherankan selama hampir 5 tahun, ranah pergerakan mahasiswa Unwar ‘dikuasai’ oleh teman-teman dari daerah timur Indonesia yang kuliah di Unwar. Darah organisasi saya kembali mendidih, begitu mengamati betapa mahasiswa Hindu Bali kalah gesit dalam memanfaatkan momen-momen penting situasi sosial kemasyarakatan yang terjadi disekelilingnya. Dan mimpi saya adalah, membentuk sebuah wadah bagi mahasiswa Hindu di Unwar.

Secara kebetulan, medio 2004 saya diajak oleh seorang teman, untuk main-main ke sebuah secretariat organisasi mahasiswa Hindu nasional bernama KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia). Waktu itu, saya berbincang-bincang dengan seorang pengurus KMHDI waktu itu, I Made Kariada (sekarang anggota KPU Klungkung Bali). Beliau banyak membuka kesadaran saya tentang pentingnya sebuah organisasi Hindu bagi kehidupan masyarakat Hindu itu sendiri. Saya tertarik. Pada waktu itu, tak lupa beliau juga mengajak saya bergabung ke KMHDI. Tanpa berfikir panjang, saya menyanggupinya. Akhirnya, secara resmi saya menjadi anggota KMHDI pimpinan cabang Denpasar pada November 2004 lewat sebuah acara penerimaan anggota baru di Pura Samuan Tiga, Gianyar. Walaupun saya sudah menjadi anggota KMHDI, niat saya untuk membentuk organisasi di kampus Unwar, belum juga padam. Lewat berbagai pembicaraan dengan teman-teman satu fakultas dan dukungan dari KMHDI, tekad saya makin bulat. Mimpi ini harus terwujud.

Namun rencana ini hampir saja buyar, karena lagi-lagi berkat ‘kegatalan’ tangan saya kembali melamar pekerjaan ditempat lain, mengharuskan saya pindah kerja. Karena saya diterima disebuah hotel baru yang juga terletak di kawasan Ubud. Hotel Uma Ubud.

Hotel Uma Ubud: Timbulnya Ide-ide Cemerlang yang Berbuah Manis

Saya pun akhirnya pindah kerja. Bekerja di tempat baru, hotel baru dengan harapan baru. Hotel ini bernama Uma Ubud, milik seorang taipan bisnis terkemuka dari Singapore.
Walaupun hati senang karena bekerja di hotel baru, secara pribadi saya was-was juga. Bisakah saya melanjutkan kuliah sambil bekerja? Agar perasaan saya plong, saya cerita kondisi saya dengan atasan langsung saya yang orang Malaysia. Sheila Ali namanya. Tanpa diduga beliau tidak mempermasalahkan status ganda saya. Sepanjang saya bisa mengatur jadwal kerja dan kuliah katanya. Sungguh senang hati saya. Terlebih waktu itu saat-saat saya akan ujian tengah semester ataupun ujian akhir, Ibu Sheila, demikian saya memanggil beliau, memberi saya keleluasaan asalkan bisa diatur dengan teman kerja. Dan yang paling penting, teman-teman kerja ternyata tidak mempermasalahkannya. Lagi-lagi, ucap syukur saya kepada Hyang Widhi tak henti-henti saya kumandangkan. Namun, sisi minusnya, kepindahan saya ke tempat baru, membuat ide saya membentuk organisasi di kampus Unwar agak terbengkalai.

Sebagai hotel baru, hotel Uma Ubud, memerlukan penataan yang serba baru dan ide-ide baru. Dan disini saya mengerahkan kemampuan terbaik saya untuk itu. Saat saya bekerja di hotel ini, saya sudah resmi menjadi anggota KMHDI. Dan ini sangat membantu dalam pengembangan pola pikir dan wawasan saya di tempat kerja. Hal ini saya buktikan tatkala pembentukan organisasi karyawan sebagai salah satu persyaratan Undang-Undang Ketenagakerjaan di tempat usaha berbadan hukum yang mempekerjakan banyak karyawan. Dari manajemen, mengeluarkan 2 opsi, yakni karyawan memilih membentuk SPSI(Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) ataukah SPTP (Serikat Pekerja Tingkat Perusahaan).
Perbedaan mendasar dari kedua lembaga ini adalah kalau SPSI, maka unit usaha yang membentuknya akan berada dibawah kepengurusan SPSI diwilayah kerja unit usaha tersebut sedangkan kalau SPTP bersifat mandiri. Kedua organisasi ini diakui secara sah oleh dinas tenaga kerja. Nah, waktu itu saya mengusulkan kepada segenap karyawan dan manajemen untuk memilih membentuk SPTP daripada SPSI. Pertimbangan saya, sebagai hotel baru, lebih baik Uma Ubud konsolidasi internal terlebih dahulu dengan membuat serikat pekerja mandiri yang tercatat resmi di dinas tenaga kerja. Usulan saya diterima secara aklamasi waktu itu. Nama organisasinya saya usulkan bernama SEKAR Uma, singkatan dari Serikat Karyawan hotel Uma Ubud. Menurut saya, sekar juga berarti bunga, dalam bahasa daerah Bali. Sehingga kata sekar ini dapat diartikan sebagai organisasi yang terdiri dari karyawan hotel Uma Ubud, yang diibaratkan sebagai bunga pengharum hotel Uma Ubud. Secara aklamasi usulan ini diterima oleh manajemen dan segenap karyawan. Sungguh bangga saya waktu itu, bisa memberikan kontribusi bagi tempat saya bekerja. Berkat karunia Hyang Widhi, pada bulan Juli 2004saya mendapat penghargaan sebagai karyawan terbaik. Disusul beberapa bulan kemudian saya kembali mendapatkan gelar karyawan terbaik untuk tahun 2004 – 2005. Semua itu saya syukuri sebagai suatu kebetulan dan anugrah Tuhan. Betapa tidak, sejujurnya masih banyak teman-teman kerja yang lebih bagus dari saya, sekali lagi mungkin itu adalah kebetulan dan keberuntungan belaka. Saya pun mendapat kesempatan untuk liburan 1 minggu ke Thailand sebagai hadiahnya. Sungguh pengalaman yang mengesankan.

Terbentuknya PMHD Unwar: Bermodal Semangat & Tekad

Rutinitas pekerjaan dan kuliah saya jalani dengan sabar dan tekun. Dalam kegiatan akademis perkuliahan saya cukup aktif. Kondisi kondusif ditempat kerja membuat saya begitu terpacu dalam menjalani rutinitas akademis. Ide yang tertunda dulu, yakni membentuk sebuah organisasi mahasiswa Hindu di kampus Unwar kembali menghangat. Berbekal sedikit ilmu di KMHDI, saya kemudian mengumpulkan teman-teman yang satu visi. Cukup banyak yang antusias, khususnya di fakultas hukum, tempat saya kuliah. Sejurus kemudian saya menyebar kuesioner terbuka tentang perlunya sebuah organisasi bernafaskan Hindu di kampus Unwar. Dan hasilnya cukup positif, rata-rata responden setuju dengan pembentukan ini. Berdasarkan hal ini, saya memberanikan diri untuk mengumpulkan teman-teman yang setuju. Serangkaian rapat kami lakukan termasuk mengundang teman-teman dari KMHDI untuk memperoleh masukan. Topik rapat semakin mengerucut dengan penamaan organisasi, pada awalnya saya mengusulkan nama FKMHD(Forum Komunikasi Mahasiswa Hindu Dharma), namun oleh peserta rapat digodok lagi, sehingga tercetuslah nama PMHD(Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma), yang idenya saya lempar pada saat terjadi kebuntuan rapat. Nama itu diterima oleh peserta rapat dengan alasan agar istilah Bali tetap melekat dalam nama organisasi, dengan maksud agar mengundang orang untuk lebih tahu apa itu PMHD.

Dalam proposal pendirian organisasi PMHD, saya mengangkat sebuah spirit tradisional yang sesuai dengan nama kampus Warmadewa. Nilai-nilai itu adalah menjadikan tonggak kebesaran dinasti kerajaan Bali kuno, dengan rajanya Sri Kesari Warmadewa sebagai semangat menggelorakan jiwa mahasiswa Hindu Unwar. Lambang organisasi, idenya saya dapatkan dari pengalaman saya mengikuti pameran dunia di Nusa Dua tahun 2002 lalu. Kebetulan senjata trisula sebagai senjata dewata nawa sanga, menjadi inspirasi Tri Hita Karana Award waktu itu. Disamping senjata dewata nawa sanga (Dewa Sambhu), oleh panitia penyelenggara Tri Hita Karana Award, lambang ini digunakan sebagai penggambaran Tri Hita Karana, filosofi kearifan lokal Bali. Nah, senjata trisula itu pulalah yang menjadi tubuh organisasi PMHD Unwar. Dimana, bidang-bidang tugas organisasi, mencakup bidang parahyangan, pawongan dan palemahan. Akhirnya lahirlah organisasi mahasiswa Hindu di kampus Warmadewa yang kami deklarasikan pada Sabtu Wage, tanggal 11 Juni 2005.Dan yang lebih membanggakan kami waktu itu, acara deklarasi PMHD Unwar, juga dihadiri oleh organisasi non Hindu seperti Formasi(Forum Mahasiswa Islam) Unwar, KMK(Kerukunan Mahasiswa Kristen) Unwar, disamping dari KMHDI, Pekraman Widya Santika Politeknik Negeri Bali, Perwakilan IHDN(Institute Hindu Dharma Negeri), dan tentunya dari unsur kampus Unwar yang terkait. Mulai saat itu pulalah PMHD Unwar mulai berkiprah dalam kancah kepemudaan & kemahasiswaan di Denpasar.

Untuk masalah pendanaan organisasi,awalnya sebagian besar keluar dari kantong saya mengingat PMHD Unwar baru terbentuk.Dana ini, saya dapatkan dari hasil jerih payah bekerja di hotel. Pendapatan per bulan, saya sisihkan untuk mendanai roda organisasi PMHD Unwar. Semua itu saya lakukan dengan ikhlas & ngayah, karena saya yakin, kalau kita berniat baik, maka hasilnya pun pasti akan baik pula.

Walaupun saya kemudian lebih fokus di PMHD Unwar, bukan berarti aktifitas saya di KMHDI Pimpinan Cabang Denpasar mentok.Saya berusaha mensinergikan aktifitas di PMHD dengan KMHDI secara cermat disamping tugas pokok saya mencari nafkah di hotel. Bahkan saya sempat beberapa kali aktif menjadi panitia lomba dokar hias dalam rangka HUT kota Denpasar yang mana penyelenggaranya adalah KMHDI PC Denpasar. Saya sampai minta tambahan libur yang memang jatah saya di hotel demi menangani agenda tetap pemerintah kota Denpasar ini. Semua kegiatan berjalan dengan lancar walau sangat melelahkan saya secara fisik maupun mental. Namun karena semua kegiatan saya jalani secara ikhlas dan bersemangat, semua dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan organisasi PMHD Unwar berdasarkan AD/ART-nya adalah berdasarkan penjabaran Tri Hita Karana, sebagai filosofi luhur local genius Bali dalam praktek nyata kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ajaran luhur Mpu Kuturan ini menginspirasi saya mengembangkannya di PMHD Unwar. Dan terbukti disambut baik oleh anggota dan pengurus. Untuk periode pertama, saya didaulat menjadi Ketua PMHD Unwar masa bakti 2005 – 2006. Pada masa kepengurusan saya, kegiatan berskala besar yang kami laksanakan adalah menggelar dharma wacana serangkaian upacara suci Wraspathi Kalpa di kampus Unwar. Ide menggelar dharma wacana ini saya ajukan ke panitia karya. Dan kebetulan PMHD Unwar ikut serta menjadi panitia karya. Nara sumber dharma wacana waktu itu, adalah Ida Pedande Gde Made Gunung dari griya Purnawati Blahbatuh Gianyar. Segala macam bentuk persiapan dharma wacana, PMHD lakukan secara mandiri. Baik ketika harus tangkil ke Griya maupun mengundang pihak Bali TV untuk menayangkan kegiatan itu nantinya. Acara ini sebagai implementasi dari konsep parahyangan dan pawongan PMHD Unwar berlangsung dengan lancar dan meriah. Undangan yang hadir bahkan sampai harus melebihi kapasitas ruang auditorium Unwar.Awighnam astu, acara berlangsung sukses.

Menjelang lengser sebagai Ketua PMHD, saya melontarkan sebuah ide membuat kegiatan eksternal demi mengenalkan PMHD ke dunia luar. Ide tersebut adalah menggelar acara penghijauan dengan bunga Jempiring disepanjang jalan protokol kota Denpasar. Kebetulan waktu itu,bertepatan dengan HUT Pemerintah Kota Denpasar. Ide ini kami konsultasikan dengan pihak Pemkot dan disambut dengan baik oleh pemerintah kota Denpasar. Ide saya ini dijalankan oleh adik-adik pengurus PMHD yang baru pada waktu itu. Dan ternyata mendapat sambutan meriah warga kota Denpasar. Sebagai penggagas acara, saya sempat diwawancarai oleh beberapa stasiun TV daerah Bali dan media massa lainnya. Sungguh pengalaman yang mengesankan saya.

Kesibukan Pekerjaan : Membatasi Diri Demi Periuk Nasi

Berbagai aktifitas yang saya jalani, hampir membuat saya terlena. Saya begitu tenggelam dalam keasyikan aktifitas luar rumah selain pekerjaan membuat kedua orang tua saya khawatir. Ayah mengingatkan saya, untuk tidak begitu larut dalam kegiatan organisasi. Beliau menyarankan untuk fokus ke masa depan, apalagi saya juga kuliah. Menurut orang tua saya, kegiatan perkuliahan dan pekerjaan saja sebenarnya sudah menyita waktu saya. Apalagi ditambah kegiatan organisasi. Saya pun mematuhi nasehat orang tua. Untuk beberapa lama, saya fokus bekerja di hotel Uma Ubud. Namun godaan aktif berorganisasi kembali muncul.
Oleh teman-teman KMHDI saya didaulat untuk membantu pimpinan daerah Bali. Dalam lokasabha PD KMHDI Bali tahun 2006, saya diamanatkan untuk membantu di bidang penelitian & pengembangan. Saya didaulat sebagai koordinator.

Kesibukan di tempat kerja semakin bertambah, saya tidak bisa sepenuhnya aktif di organisasi KMHDI dan PMHD. Apalagi saya menjelang tamat kuliah. Kesibukan semakin berjubel rasanya tatkala mulai menyusun skripsi. Sangat melelahkan. Tapi saya tidak menyerah, saya optimis bisa menggondol gelar sarjana hukum. Apalagi bantuan moril dari orang-orang terdekat saya begitu luar biasa.
Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang, saya berhasil menamatkan kuliah di Universitas Warmadewa, dengan hasil cukup baik, cumlaude pada wisuda sarjana hukum universitas Warmadewa pada tanggal 17 September 2007. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya yang begitu besar. Atas segala kemudahan-Nya. Seminggu setelah tamat, kemudian ada tawaran dari pimpinan tempat saya bekerja untuk bekerja di luar negeri. Saya tertarik. Akhirnya saya pun dikirim oleh perusahaan ke salah satu jaringan hotel milik perusahaan pusat. Lokasi kerja baru saya adalah di hotel Parrot Cay, yang terletak di kepulauan Karibia, tepatnya di pulau Turks & Caicos, British West Indies.

Bekerja di Negeri Orang: Pengalaman Baru, Darah Organisasi pun Makin Berkobar

Saya mulai babak baru dalam perjalanan karir dengan bekerja jauh dari rumah, sangat jauh. Semua saya pasrahkan kepada Tuhan. Akhirnya pada tanggal 28 Oktober 2007, saya mulai bekerja di sebuah hotel yang terletak pada sebuah pulau milik pribadi. Orang-orang Bali ternyata banyak yang bekerja di sini. Tercatat ada sekitar 60-an orang. Pada awal-awal bulan pertama, saya merasa sangat asing. Namun, saya mencoba bersikap realistis dan optimis, saya pasti bisa beradaptasi.

Akhir tahun 2008 lalu, saya didaulat oleh teman-teman Bali disini untuk menjadi Ketua Sekehe Umat Hindu. Saya tidak bisa menolak. Saya siap ngayah, disamping pada dasarnya saya suka berorganisasi. Dan kembali anugrah Hyang Widhi, bulan April 2009, saya terpilih sebagai karyawan terbaik di hotel ini. Sungguh tidak menyangka dan ini juga saya yakini dipengaruhi oleh faktor keberuntungan. Dan tanggal 27 Juni 2009 kami warga Indonesia di Turks & Caicos Island, kedatangan Duta besar Indonesia untuk Kuba, dalam rangka pencatatan/pendataan atau lapor diri warga Negara Indonesia di Turks & Caicos Islands, disamping sebagai ajang sambung rasa. Dan lagi-lagi saya menjadi ‘korban’, teman-teman Indonesia menunjuk saya sebagai ketua panitia acara. Saya tidak bisa menolak. Saya anggap ini adalah ajang pembelajaran buat saya.

Dari semua perjalanan tanpa lelah yang saya lalui, semua saya dasari dengan rasa ikhlas dan optimis bahwa apa yang kita lakukan sekarang adalah investasi moral dan materiil yang pastinya berguna untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat disekitar kita.

Perenungan Diri, Menuju Kedewasaan

Bagi saya, hidup adalah karma yang harus dijalani dengan ikhlas dan sabar. Saya sangat menyadari bahwa sebagai mahluk Tuhan, saya mempunyai kelemahan. Salah satu kelemahan tersebut adalah, terkadang saya kurang bisa mengontrol emosi dan pelupa. Namun, saya sering melakukan perenungan bagaimana agar hal-hal negative itu bisa saya minimalkan. Dan sampai saat ini, seorang Dwija adalah seorang anak manusia yang masih sedang belajar dan belajar.

Dan, perjalanan ini akan saya teruskan…dan kisah ini akan terus bersambung...sampai suatu saat nanti, tiba waktunya…



Read more...

Filosofi Tumpeng Kuning

>> Friday, August 14, 2009


Para pembaca terutama tentu banyak yang tahu tentang nasi tumpeng. Umumnya keberadaan nasi tumpeng ini, banyak dijumpai dalam denyut ritual masyarakat Bali dan Jawa (Kejawen). Nah apa sih sebenarnya kandungan makna dari nasi tumpeng ini?

Tumpeng adalah simbul gunung, gunung adalah simbul kesucian, kesuburan dan kesejahteraan/keselamatan. Nah, dalam kehidupan adat di Bali dan jawa, tumpeng biasanya dibuat baik tidak berwarna (nasi putih), maupun dicampur adonan kunyit, sehingga berwarna kuning, ada pula berwana merah, dan hitam (jarang-jarang). Biasanya kalau ada peringatan hari kelahiran menurut Bali(otonan), ataupun acara selamatan(jawa), nasi tumpeng adalah sesaji wajib. Dan biasanya sesaji (sesajen) tumpeng yang sudah selesai dipakai dalam kegiatan ritual, dihidangkan untuk dinikmati baik untuk individu maupun berbanyak. Nah, apa makna yang tekandung didalamnya?

Sesuai dengan penjelasan awal, maka nasi tumpeng ini kurang lebih bermakna permohonan dan atau ungkapan sujud syukur serta terima kasih kepada Sang pencipta atas karunia-Nya kepada umat manusia dan segenap mahluk. Sesuai dengan konsep gunung, maka menu nasi tumpeng, khususnya nasi kuning biasanya dilengkapi dengan lauk dan bumbu lengkap, ada daging, sayuran, dan hiasan. Dibuat sedemikian rupa berdasarkan adat dan seni setempat.

Sejauh mana efek spritual dari nasi tumpeng? Hal ini berdasarkan keyakinan dan sugesti semata. Jadi kalau anda yakin, maka keyakinan itu akan menjadi daya dorong (sugesti) luar biasa. So, apakah anda mau di-nasi tumpeng-kan?


Salam,

S M

Read more...

Desa Adat, Pemecah Masalah yang Kerap Menjadi Masalah

>> Thursday, July 23, 2009

Saudara,

Seperti yang kita pahami bersama, peranan Desa Adat(kini, Desa Pekraman sesuai Perda Propinsi Bali, No.2 Tahun 2002-red), begitu signifikan dalam berbagai sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali pada umumnya. Namun, patut kita sadari bahwa dari berbagai nilai positif yang ada, ternyata dalam perjalanannya Desa Adat banyak menyimpan potensi konflik yang lambat laun akan menjadi 'bom waktu' yang sewaktu-waktu bisa meledak. Kenapa bisa demikian?

Desa Adat dalam Analisa SWOT

Penulis mencoba membedah dan mengurai menurut cara pandang penulis yang sangat terbatas mengenai Desa Adat di Bali menurut analisa SWOT, yang terdiri dari: Strength, Weakness, Opportunity, and Threats. Yaitu sebuah cara analisa yang mencoba mengurai suatu permasalahan berdasarkan Kelebihan/kekuatan, Kelemahan, Kesempatan/peluang, dan Tantangan sehingga didapatkan sebuah perbandingan dan nilai-nilai dominan yang dipakai untuk memecahkan suatu permasalahan.

Strength

Sesungguhnya Desa adat atau desa pekraman di Bali, merupakan warisan adiluhung para leluhur Bali beratus-ratus tahun silam. Kalau melihat dari sejarahnya, Desa Pekraman di Bali dicetuskan oleh seorang Mpu dari tanah Jawa, yang bernama Mpu Kuturan, yang pada mulanya beliau ditugaskan sebagai senapati untuk menata Bali. Sebelum kedatangan beliau, sekte-sekte atau aliran kepercayaan di Bali tumbuh subur dan sangat banyak. Diantaranya, Sekte Bhairawa, sekte Siwa, dan lain-lainnya. Sehingga tidak mengherankan di Bali pada waktu itu, konflik antar sekte/aliran kerap terjadi. Saling tikam, saling adu ilmu hitam dan lain-lainnya. Maka, oleh Sang Mpu, dibawakanlah sebuah konsep tata kelola pemerintahan adat di Bali, yang bernama Desa Pekraman.

Dalam sebuah rapat besar yang dihadiri oleh seluruh sekte-sekte yang ada di Bali, tepatnya diadakan di sebuah Pura di Bali tengah(sekarang bernama Pura Samuan Tiga), disepakati, seluruh sekte-sekte/sampradaya dilebur menjadi tiga. Pada waktu itu sang pemimpin rapat akbar, yakni Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Kahyangan Tiga beserta perangkat pendukung utamanya yakni Desa Adat/Pekraman. Konsepsi Kahyangan Tiga atau Tri Kahyangan ini terdiri dari Kahyangan/Pura Desa, sebagai tempat suci pemujaan terhadap manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma,sebagai pencipta, Kahyangan/Pura Puseh, sebagai tempat memuja Tuhan dalam manisfestasinya sebagai Dewa Wisnu, simbul pemelihara dan Kahyangan/Pura Dalem, sebagai tempat suci memuja manifestasi Tuhan sebagai Dewa Ciwa, sebagai pemralina/mengembalikan segala sesuatu ke asalnya.

Komponen penyangga utama Tri Kahyangan ini adalah Desa Pekraman atau Desa Adat. Segala macam bentuk aktifitas lahir bathin di desa Pekraman dibungkus oleh pelaksanaan filosofi Tri Hita Karana dalam prakteknya. Dengan daya dukung yang berlapis-lapis demikian, sebetulnya dapat kita lihat secara langsung, betapa kokohnya pilar pulau Bali yang bernama Desa Adat/Pekraman ini. Ditambah daya dukung yang secara riil dibuktikan dengan kehidupan adat istiadat di Bali yang begitu kuat menjiwai agama Hindu yang dipeluk mayoritas warga Bali.

Nilai-nilai kearifan lokal Bali seperti semangat menyame braya, sagilik-saguluk salulung sabayantaka sarpanaya (susah senang, senasib sepenanggungan), ngayah, dan lain sebagainya sesunggguhnya dalam praktek dari zaman dulu sudah menjadi jaminan akan betapa kuatnya ikatan bathin orang Bali, baik terhadap keluarga, leluhur, Tuhan dan tanah kelahirannya. Local genius diatas ditambah lagi dengan heroic power yang menjadi slogan leluhur dan pejuang Bali pada masa perang melawan penjajah Belanda baik pada masa perang kerajaan-kerajaan di Bali melawan Belanda maupun pada masa revolusi fisik. Pembaca tentu masih ingat istilah ini, PUPUTAN! Sekali kata powerful ini terpekik maka kobaran semangat laksana api nan membara pasti akan terletup dari setiap sanubari orang Bali. Keunggulan orang Bali juga terletak pada sikap ramah-tamah dan permisif terhadap tamu yang datang. Sehingga tidak mengherankan ditambah daya dukung alam dan budaya yang mempesona, sikap hospitality ini ternyata menjadikan pulau dewata ini menjadi tempat wisata yang begitu terkenal di dunia. Umumnya, wisatawan yang datang ke Bali memuji keramahan orang Bali. Dan ini pun berlaku bagi orang-orang Bali yang merantau ke luar daerah/negeri. Sikap ini seakan menjadi trade mark orang Bali kapan dan dimana saja.

Warisan alam, adat-istiadat dan budaya Bali merupakan jaminan lain bagi setiap orang luar Bali untuk mengagumi Bali. Betapa tidak, hamparan alam menghijau, pantai yang indah menawan, upacara adat yang tiada henti, dan lain sebagainya, seakan melengkapi detak-detik denyut nadi kehidupan masyarakat Bali yang sudah barang tentu menjadi konsumsi yang menarik orang luar untuk 'menikmati' Bali.

Kelemahan/Weakness

Kalau kita lihat dari aspek daya dukung diatas(Strength-red), sepertinya kita begitu terlena, dinina-bobokan oleh segala sesuatu yang indah tentang kehidupan adat istiadat di Bali. Namun, disisi lain, kita harus menyadari bahwa ada banyak celah yang kerapkali menjadi titik lemah sehingga tidak mengherankan kita baca, dan jumpai terjadinya berbagai konflik horizontal yang melibatkan semeton Bali sendiri. Adapun Kelemahan-kelemahan tersebut akan penulis coba membedahnya menjadi 2, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor Internal

a. Mulai memudarnya rasa menyama braya dikalangan masyarakat Bali
Hal ini dikarenakan berbagai faktor, diantaranya persaingan ekonomi, sosial, rasa iri hati dan orientasi masa depan yang mulai berbeda-beda.

b. Awig-Awig yang tidak fleksible
Harus diakui, ditengah persaingan global dewasa ini, keberadaan aturan desa pekraman yang bernama awig-awig, masih cukup relevan dalam mengatur tata-titi kehidupan sosial dalam lingkungan desa pekraman. Namun, harus diakui pula dibeberapa wilayah desa pekraman di Bali, masih ada desa yang memiliki awig-awig yang belum lentur. Contoh misalnya aturan mengenai manak salah di salah satu wilayah desa di Bali. Belum lagi masalah ngaben yang sering memicu konflik dibeberapa tempat dengan berbagai faktor penyebabnya.

c. Perbedaan Visi dan Misi Warga
Seperti pada faktor nomer a, dengan berbagai faktor penyebabnya, perbedaan pandang diantara warga desa acapkali berujung pada konflik horisontal baik secara individu maupun kelompok. Dalam arti bahwa, demokrasi( perbedaan pendapat ), masih sering dimaknai sebagai bentuk permusuhan oleh sementara oknum dan kondisi ini sering menjadi ajang provokasi sehingga menjadi suatu kondisi kontraproduktif kolektif.

d. Suryak Siyu, Kesepakatan Emosional
Di Bali ada istilah suryak siyu, yang berarti koor massal terhadap suatu hal yang bisa berarti persetujuan atau penolakan terhadap sesuatu yang pada mulanya dimulai oleh seseorang atau beberapa orang kemudian menjadi persetujuan massal yang biasanya didasarkan atas gerak emosional tanpa pertimbangan yang matang. Sikap ini acapkali melahirkan hal-hal yang kontraproduktif terhadap suasana kondusif di lingkungan desa pekraman.

Demikian sekilas beberapa faktor internal yang kerap penulis jumpai di lingkungan penulis, sehingga perspektif ini bersifat debatable dan one traffic perspective menurut penulis belaka.

2. Faktor Eksternal

Sedangkan faktor eksternal yang mendorong terjadinya pelemahan dari ketahanan masyarakat adat di Bali antara lain:

a. Serbuan pengaruh luar/asing/luar negeri secara masif baik melalui mobilisasi kependudukan maupun media.
Adanya migrasi kependudukan dari dalam wilayah Bali sendiri maupun dari luar Bali kedalam menjadi salah satu penyebab tergerusnya nilai-nilai kearifan lokal di Bali. Dikatakan demikian karena secara langsung maupun tidak langsung hal ini berdampak kedalam secara fisik, maupun psikis. Contoh sederhana, pengaruh budaya barat memakai bikini, atau pakaian terbuka lainya, menjadi begitu biasa di Bali. Sistem rumah susun yang banyak diterapkan di Jawa/Jakarta, menjadi tren di Bali dengan keberadaan apartemen (yang merupakan kata lain rumah susun), kondominium dan lain-lain.

Kecanggihan media massa baik elektronik maupun cetak memberi warna cukup signifikan dalam rona kehidupan masyarakat Bali. Dan ini tidak dapat dicegah karena semakin mudahnya akses terhadap kemajuan teknologi dewasa ini. Hal ini, juga dikarenakan tingkat perekonomian masyarakat yang semakin membaik karena dukungan sektor pariwisata yang menjadi andalan Bali.

Perpindahan penduduk dari desa ke kota, dari luar Bali ke Bali juga menjadi salah satu faktor pendorong pelemahan ini. Semua orang ingin hidup lebih baik, dan kota adalah salah satu harapan untuk mewujudkannya. Pulau Bali bagi pendatang luar daerah, ibaratnya seperti gula yang membuat semut-semut kecil dan nakal berbondong-bondong datang ingin menikmatinya. Disadari atau tidak, hal ini juga menimbulkan ekses yang bisa melemahkan ketahanan masyarakat adat Bali. Dikatakan demikian, karena setiap individu atau kelompok yang ber-migrasi ke Bali atau ke kota Denpasar misalnya datang membawa budaya, kebiasaan masing-masing. Dan ini tentu akan menyebabkan terjadinya persinggungan(pertemuan) budaya. Kalau budaya berjodoh, maka akan terjadi akulturasi budaya. Nah kalau tidak, nah ini, harus diwaspadai bisa menimbulkan kondisi 'ketidaknyamanan sosial budaya'.

b. Ketidaksesuaian Regulasi Nasional dengan Aturan Setempat

Hal lain yang bisa menyebabkan terjadinya goncangan sosial lokal(local cultural shock, adalah adanya 'pemaksaan' peraturan pusat (pemerintah RI), yang tidak sesuai dengan nafas kearifan lokal Bali. Misalnya penerapan UU Pornografi secara nasional yang sampai saat ini masih ada pada wilayah abu-abu alias 'saru gremeng'. Padahal kehidupan sosial budaya Bali yang sudah berjalan dari ratusan tahun silam, dominan mendobrak poin-poin krusial dalam UU Pornografi. Apalagi kecenderungan multitafsir dalam penerapannya. Contoh: lukisan orang/wanita telanjang. Dari kalangan seniman, pasti menilai lukisan tersebut dari sudut estetika dan seni. Kalau ini dihadapkan pada ranah hukum UU pornografi, kecenderungannya adalah adanya 'adu kesaktian' penafsiran secara yuridis oleh para ahli hukum nantinya di meja pengadilan. Yang tentu akan menguras waktu, dana dan pikiran. Atau memang ini yang diinginkan? Supaya para ahli hukum ada kerjaan? Proyek? Who knows....

Opportunity/Peluang

Disamping poin-poin diatas, dari sekian kelebihan dan kelemahan yang ada, tentu ada pula peluang atau kesempatan dalam memaknai permasalahan Desa Adat dalam praktek nyata. Kuncinya adalah pada PENGELOLAAN ATAU MANAJEMEN MASALAH. Dikatakan demikian karena dari kelebihan atau kelemahan dari desa adat ini, kalau mengelola tidak bisa, maka kehancuran sudah pasti. Dalam pengelolaan ini diperlukan leadership desa pekraman yang baik. Di Bali sudah ada kearifan lokal seperti asta brata kepemimpinan. Subyek utama dari kata PENGELOLAAN ini adalah tentu faktor manusia-nya.Dan ini adalah tugas semua pihak, mulai dari pengurus/prajuru desa pekraman, warga desa,dan awig-awig sebagai aturan yang akomodatif. Sedangkan pemerintah daerah Bali berserta jajarannya adalah bertindak sebagai pengayom, pelindung yang netral dan senantiasa mencari win-win solution yang bijaksana.

Untuk mewujudkan hal diatas, tidaklah mudah dan perlu kerjasama semua pihak. Untuk mewujudkan sesuatu yang baik, perlu perjuangan. Untuk itu, diperlukan kesamaan langkah setiap komponen masyarakat desa pekraman diatas perbedaan yang ada.

Threats/Tantangan

Tantangan yang dihadapi oleh desa pekraman di Bali seperti rumusan metode diatas,bersumber dari dalam maupun dari luar(baca penjabaran diatas-pen). Dan tantangan ini pun harus dipilah sebagai tantangan jangka pendek ataupun tantangan jangka panjang. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, diperlukan kesiapan SDM (sumber daya manusia), untuk itu diperlukan suatu sistem regenerasi kepemimpinan desa pekraman; yang mana penulis amati sudah berjalan dengan adanya Sekehe Teruna-teruni, Dedaha(perkumpulan warga muda) di tiap desa pekraman. Dan ini adalah sumber kekuatan desa pekraman yang sesungguhnya. Pendoktrinan filosofi luhur Tri Hita Karana haruslah dijalankan secara konsekwen, berkelanjutan dan sungguh-sungguh.

ADAPUN INTISARI TULISAN INI YAKNI PENULIS MENGAJAK SEMUA PIHAK UNTUK MULAT SARIRA. MARI KEMBALI KE DALAM SANG DIRI. SEMOGA SEMUA PIHAK TERCERAHKAN.

Pesanggrahan keramat,

Agustus 2009

Read more...

Sekilas Tentang Siat Peteng

>> Saturday, June 13, 2009

Sobat Sekalian,

Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya penuh dengan makna-makna Ilahi yang sangat dalam. Termasuk didalamnya keberadaan dunia nyata dan tidak nyata. Dalam bahasa Bali dikenal dengan istilah sekala dan niskala. Perang atau pertempuran lumrah terjadi di dunia nyata. Namun perang yang terjadi di dunia niskala atau alam yang tidak kelihatan ini tentu mengundang rasa penasaran anda bukan?

Penulis akan mencoba menguak sedikit tentang dunia niskala yang sumbernya penulis dapat dari wawancara dengan beberapa nara sumber pelaku perang niskala ini. Mereka kebetulan adalah keluarga dekat penulis sendiri yang berprofesi sebagai sulinggih/Pemangku Pura.

Orang tua ini giginya sudah pada tanggal/ompong. Beliau adalah salah satu orang yang dituakan di desa tempat penulis tinggal. Disamping sebagai petani tulen, beliau adalah seorang Pemangku Pura di tempat kelahiran penulis. Pekak Kicen demikian beliau sering disapa,juga masih terhitung kerabat dekat keluarga kami. Pada suatu senja, iseng-iseng penulis ngobrol dengan beliau tentang dunia niskala. Katanya pada era tahun 80-an, beliau sering main-main ke alam lain. Namun mengemban misi yang mempertaruhkan nyawa. Yakni berperang tanding. Wow!.., penulis sangat tertarik mendengarnya.
Dikisahkannya, bahwa alam niskala itu kurang lebih sama dengan alam tempat manusia, cuman bedanya, dimensinya berbeda, menurut beliau, hanya orang-orang yang memiliki kemampuan tertentu,orang-orang yang memiliki karma tertentu atau orang-orang pilihan yang bisa menembus alam lain ini. Dan kalau ikhwal Pekak Kicen menjadi pemangku pun tidak terlepas dari unsur niskala.
Singkat cerita, beliau mendapat 'mandat' dari 'sesuhunan'-nya untuk bertarung menguji kesaktian di medan laga. Merujuk istilah Pekak Kicen adalah bertarung di arena tajen, menjadi 'ayam aduan'. Hari menjelang sore, Pekak Kicen sudah menuju bilik tempat tidurnya. Dia bilang kepada seluruh keluarga dirumah bawa dia mau tidur awal, jangan diganggu katanya. Nah, begitu memejamkan mata, sukma-nya langsung terbang ke suatu tempat nun disana. Dan sampailah beliau di sebuah arena, yang katanya mirib arena tajen atau sabungan ayam. Dan komplit, ada dagang, ada penonton, pokoknya sebagaimana layaknya arena tajen di Bali. Tapi, tokoh-tokoh tajen seperti saye, pekembar, penglingsir, wajah mereka tidak kelihatan jelas. Menurut Pekak Kicen, mereka adalah para sesuhunan Pura yang anak buahnya menajdi ayam aduan di arena tersebut. Mengenai tempatnya, masih menurut Pekak Kicen, seperti berada di atas awan, tapi dia masih bisa menjejakan kaki. Pendek kata, mulai lah Pekak Kicen dan lawannya bertarung, seperti layaknya pertarungan di alam nyata.Menurutnya, selama pengalaman beliau, syukurnya selalu menang tapi kalau terluka sudah sering katanya. Menurut Pekak Kicen, ada aturan baku di dunia siat peteng ini, bagi pihak yang kalah tarung, dalam arti kalah dengan resiko kematian, dia boleh meminta tempo mengulur kapan mau di ambil nyawanya. Hal ini dimungkinkan apabila si pihak yang kalah, masih punya urusan atau tugas di alam nyata. Pernah suatu ketika, diperkuat penuturan orang tua penulis, Pekak Kicen ini sakit keras, namun dokter tidak menemukan penyakitnya. Namun, si Pekak ini mengatakan dia akan sembuh sendiri nanti, tidak perlu diobati karena hanya luka ringan. Secara fisik tidak tampak luka itu, tapi kepada bapak penulis beliau menunjukan di perutnya ada garis sayatan berwarna biru yang sangat tipis dan nyaris tidak kelihatan. Menurut Pekak Kicen, pada saat beliau bertarung siat peteng, lawan yang dihadapi sangat tangguh, sampai membuatnya terluka, namun masih bisa diatasi. Ciri-ciri kalau disuatu tempat ada siat peteng menurut Pekak Kicen, biasanya ada semacam hawa panas, dan udara tidak bersahabat, dan biasanya akan diikuti dengan pemunculan bola-bola api, baik besar maupun kecil.

Hal ini penulis perkuat dengan pengalaman penulis sendiri, ketika bekerja di sebuah hotel di Ubud. Kebetulan waktu itu dapat tugas jaga malam. Waktu itu tepat pukul 01.00 dini hari. Tiba-tiba satpam teman kerja menunjuk-nunjuk sesuatu keatas langit, dan mengajak penulis ikut menyaksikan. Dan tampaklah oleh penulis, 3 buah bola api, beterbangan di udara saling adu tinggi, aneh..! Menurut teman tadi, itulah ciri para tokoh siat peteng sedang adu sakti. Anda para pembaca boleh percaya atau tidak dengan fenomena ini. Dan sebenarnya masih banyak kisah serupa yang terjadi dan mungkin lebih seru. Moga lain kali penulis ada waktu menceritakannya.

Pesanggrahan Keramat Karibia,

Satria Madangkara

Read more...

Menakar Peluang Para Kandidat Capres RI

>> Thursday, June 11, 2009

Pembaca yang budiman,

Sebentar lagi tepatnya tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia kembali akan menggelar pesta demokrasi jilid II. Sebelumnya pemilu legislatif sudah digelar yang seperti kita ketahui bersama masih menyisakan berbagai persoalan. Mulai dari kisruh DPT, Pemilu ulang, caleg stress, dan lainnya. Dalam waktu dekat ini, kembali para putra-putri terbaik bangsa akan berkompetisi memperebutkan tahta menjadi orang nomer satu di republik ini.

SBY-Boediono
Pasangan ini adalah kombinasi incumbent dengan cawapres yang merupakan anak buahnya di kabinet. Diusung oleh partai demokrat dan partai-partai tengah seperti PKS, PKB, PAN, dan partai gurem lainnya, menjadi salah satu kandidat terkuat. Dengan tidak menutup kemungkinan bisa terjungkal, mengingat potensi 'swing voter' yaitu massa mengambang yang masih belum menentukan pilihannya secara pasti. Dalam arti kata, mereka bukan sebagai simpatisan, kader partai.
Sebetulnya pasangan SBY - Boediono adalah pasangan yang 'tidak diharapkan' oleh partai-partai pendukung SBY. Hal ini dikarenakan Boediono adalah berasal dari kalangan intelektual bukan dari partai. Namun, pilihan ini tentu merupakan pilihan hati SBY selaku capres. Dan ini sebetulnya adalah jalan tengah bagi partai-partai pendukung SBY. Seperti umum diketahui, partai pendukung SBY ini semua ngotot calonnya "gol" jadi cawapres pendamping SBY.

Peluang
Dengan bermodalkan dukungan yang signifikan hasil pemilu legislatif lalu ditambah dengan swing voter tadi, maka besar kemungkinan pasangan SBY-Boediono yang akan maju hingga putaran kedua pilpres. Dengan asumsi bahwa tidak ada pasangan yang mencapai perolehan suara lebih dari 50% plus 1.

Tantangan
Pasangan SBY-Boediono bukannya tanpa cela. Bahkan pondasi yang dibangun ditengarai cukup rapuh. Hal ini dikarenakan terbelahnya suara internal partai-partai pendukung SBY. Oke-lah kita lihat, partai demokrat sangat solid mendukung. Namun coba kita amati PKS yang notabene-nya kurang sreg dengan Boediono, belum lagi PAN yang terpecah menyusul 'ngambek'-nya Mas Tris - panggilan akrab sang ketua umum, Soetrino Bachir. Demikian juga PKB yang jauh-jauh hari sudah terbelah duren karena kisruh internal tak berkesudahan antara pro Cak Imin denga Gus Dur. Dari sudut pandang ini, SBY-Boediono berpotensi menelan kekalahan telak dari lawan-lawannya. Stigma yang tercap pada pasangan SBY, Pak Boediono sebagai neoliberalis penulis rasa hanya dirasakan oleh kaum-kaum intelektual dan masyarakat menengah keatas. Sedangkan potensi suara pilpres hampir 65% adalah berada di kantong-kantong masyarakat pedesaan dan kaum kelas bawah. Untuk yang satu ini, SBY masih cukup mempunyai nilai lebih dari calon lainnya. Karena cap pemerintahan SBY saat ini relatif cukup baik di mata masyarakat bawah. Disamping secara fisik penampilan duo SBY-Boediono cukup meyakinkan. Dengan slogan BISA, apakah SBY akan mampu mendulang sukses??

JK - Win, Lebih Cepat & Lebih Baik
Satu lagi pasangan incumbent yang turut berlaga dalam pentas pilpres kali ini adalah pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto. Seperti kita ketahui, Jusuf Kalla adalah Wakil Presiden saat ini dan Wiranto adalah mantan orag terkuat di TNI. Duo ini ditopang oleh partai Golongan Karya (Golkar) dan Hanura, partai besutan Wiranto serta partai-partai gurem lain pendukungnya. Secara matematis, Golongan Karya adalah partai lawas yang pada pemilu legislatif lalu menjadi juara II denga meraih kisaran suara 14%. Namun harus diakui SDM Golkar tergolong paling mumpuni dibanding dengan partai pemenang Pemilu, Demokrat sekalipun. Hanura, partai new rockie ini pun tidak boleh dianggap enteng, sebagai partai baru, dengan memperoleh suara kisaran 4-5 % sudah cukup bagi Hanura untuk lolos parliamentary Treshold, sebagai salah satu syarat untuk lolos sebagai peserta pemilu periode berikutnya. Apa yang dihandalkan Golkar & Hanura? Dari pengamatan penulis selama ini, massa dan kader Golkar adalah tergolong pemilih setia Golkar walaupun partai beringin ini kena badai sekalipun. Hal ini tidak mengherankan karena sikap mental ini sudah tertanam dari sejak zaman orde baru. JK, selama menjadi Wapres SBY kerap melakukan gebrakan-gebrakan populis yang melambungkan namanya. Termasuk pada saat perdamaian Aceh berhasil dipancangkan, peran Jk cukup signifikan, memang JK adalah seorang negosiator ulung dan berpengalaman dalam urusan politik. Dengan track record seorang pengusaha, tentu adalah muah bagi JK mengambil hati para saudagar dan pengusaha kelas atas di negeri ini. Dan salah satu keuntungan sosial pasangan ini adalah kombinasi luar jawa dan jawa yang dimiliki JK-WIN yang harus diakui, tidak dimiliki oleh pasangan lainnya.

Peluang
Pasangan JK-Win paling berpeluang menjadi kompetitor berat SBY-Boediono. Dikatakan demikian karena disamping mempunyai massa riil dan terstruktur, mereka juga boleh dikatakan pasangan yang mewakili wilayah nusantara,karena perpaduan jawa-luar jawa. dan cukup diterima oleh kalangan umat islam. Jangan lupa bahwa negeri ini dengan jumlah muslim yang cukup besar, ikatan emosional ke-islaman tidak bisa dipungkiri.Apalagi dalam banyak kesempatan JK - WIN selalu berusaha menampilkan istrinya masing-masing dengan pakaian bernuansa islami.

Tantangan
Pasangan ini bukannya tanpa cela. Sebut saja di partai Golkar, saat ini kuat ditengarai ada banyak faksi di tubuh Golkar, sebut saja faksi triple A(Agung Laksono, Akbar, Aburizal Bakrie) yang bermain di wilayah abu-abu. Dikatakan demikian satu sisi kaki mereka masih di Golkar, sisi yang lain mereka juga adalah pelopor dan pendorong JK untuk kembali berpasangan dengan SBY dulu. Nah, secara kelembagaan bolehlah triple A solid ke JK namun secara pribadi siapa tahu. Faksi yang lagi satu, kelompok Surya Paloh, yang mungkin pembaca sempat simak, bagaima Bos Metro TV ini dulu getol 'menikahkan' Golkar dengan PDIP, melalui Taufik Kiemas. Sangat mungkin gesekan faksi-faksi ini akan kentara pada saat hasil pilres sudah nyata secara matematis. Dan hal ini, mari kita buktikan nanti.

Akankah JK - WIN mampu lebih cepat lebih baik dan menjadi pemenang?

Mega-Prabowo

Mbak Mega, ketua umum PDIP ini tentu banyak belajar dari kekalahannya saat pemilu 2004 lalu, ketika harus dipecundangi mantan bawahannya di kabinet, Soesilo Bambang Yudhoyono. Terpilihnya Prabowo sebagai pendamping Mega merupakan puncak dari deal politik antara kedua kubu. Prabowo sangat berambisi menjadi RI 1. Disamping itu logistik politiknya sangat kuat dengan latar belakang militer dan pengusaha menjadi jaminan buat Prabowo menawar lebih kepada Mega. Dengan didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Gerindra, serta partai-partai gurem lainnya macam PNI Marhaenisme, dll, pasangan ini mencoba merebut simpati wong cilik dengan slogan ekonomi kerakyatannya. Tanpa mengecilkan peran partai, tampaknya prediksi penulis pasangan ini akan menjadi nomer buncit dari ketiga pasang capres-cawapres diatas. Apa dasarnya?

Tantangan
Pilpres langsung ini adalah memilih figur bukan partai, dari segi partai saja, PDIP sudah kalah dari Demokrat dan Golkar, belum lagi kalau kita menyadari budaya pilih kaum muslim di Indonesia yang senantiasa mengedepankan laki-laki. Sampai detik ini pun Mega oleh sebagian kalangan umat islam, diragukan ke-islaman-nya. Lain lagi Prabowo yang memiliki track record Jenderal yang cukup kelabu(saya kira pembaca sudah bisa membacanya). Yang tentu saja hal ini, akan menjadi hambatan dalam mendekatkan diri dengan massa kaum intelektual baik akademisi maupun mahasiswa. Belum lagi, cap bahwa pada masa Mega jadi presiden yang lebih banyak diamnya yang cenderung membuat sementara orang jadi bertanya ini diam emas atau karena tidak tahu apa-apa? Cukup sulit rasanya bisa menggol-kan pasangan ini bisa melaju ke putaran kedua. Kecuali kekuatan logistik Prabowo yang nanti bergerak cepat, maka hasilnya akan lain.

Peluang
Secara umum, pasangan Mega-Pro tetap punya peluang menjadi jawara asalkan mampu memaksimalkan mesin politiknya dan pada detik-detik pilpres nanti mampu menggulirkan sebuah terobosan signifikan yang menyentuh hati para calon pemilih.

Bagaimana dengan anda? Sudah siap ikut nyontreng? Selamat, semoga Pilpres kali ini dapat berjalan dengan aman, lancar dan penuh keikhlasan, baik yang menang maupun yang kalah.


Padepokan Pesanggrahan Keramat,

Karibia, Juni 2009,






Read more...

Cincin Tersedot, Perut Tercambuk & Air Suci

Pembaca,

Tulisan berikut adalah sambungan dari kisah penulis waktu "tamasya spritual" di Alas Purwo, tepatnya di pura Luhur Giri Selaka, Banyuwangi, Jatim.

Pada waktu penulis bersama rombongan merebahkan diri di lantai tanah pura situs(masih di kompleks Pura Luhur Giri Selaka), ada kejadian yang menimpa salah satu anggota rombongan. Sebut saja Pak Bagus, Dan beliau baru mau cerita tatkala dalam perjalanan pulang menuju Bali. Menurut Pak Bagus, pada malam itu, dia merasa perutnya ada yang mencambuk habis-habisan. Katanya yang mencambuk perutnya sesosok tua. Pak Dewa, yang hafal betul dengan seluk-beluk sekala-niskala Alas Purwo, dengan bercanda, menanyakan kepada Pak Bagus, apabila dia ada menelan sesuatu, demi kekebalan tubuh, atau jimat. Pak Bagus, dengan malu-malu mengakui, bahwa dulu dia memang pernah "menguntal" atau menelan, sejenis mirah untuk proteksi diri dari serangan gaib. Namun menurutnya itu sudah lama dileburnya. Menurut Pak Dewa, kejadian itu sebenarnya menjadi peringatan buat Pak Bagus dan juga yang lainnya, kalau hendak sembahyang ke Alas Purwo,atau masuk ke areal angker Alas Purwo haruslah bersih lahir bathin. Kalau ternyata ada yang memakai sabuk kekebalan, jimat, membawa senjata gaib ataupun diiringi oleh pasukan gaib, lebih baik disimpan dirumah.Intinya, kalau sembahyang ke Alas Purwo para pemedek harus dalam keadaan "kosong".

Tirtha Suci yang Membuat Pak Camat Ketakutan
Singkat cerita, sampailah kami di Bali. Tirtha campuran yang kami dapat di Pura-pura yang kami kunjungi di tanah Jawa, saya bagi rata. Dan salah satunya di minta oleh Camat Denpasar Timur waktu itu. Dan saya pun "memundut" tirtha tersebut pulang kerumah. Besoknya saya bertemu dengan Pak Dewa di kampus, dan beliau cerita bahwa ada kejadian cukup menarik yang terjadi di kantor camat Dentim. Menurut Pak Dewa, Pak Camat "melinggih"-kan tirtha tanah jawa tersebut di "plangkiran" ruangan kantornya. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Pak camat memiliki rasa takut masuk ruangannya itu. Sangat takut. Dan ketakutan ini disampaikan ke Pak Dewa. Pak Dewa menanyakan apakah Pak Camat sudah mempersembahkan canang sari sebelum "melinggihkan"tirtha tersebut. Belum katanya. Kontan Pak dewa memperingatkan Pak Camat untuk jangan sembarangan meletakkan tirtha suci tersebut seperti menaruh barang pada umumnya. Saran ini dituruti Pak Camat, dan perasaan beliau pun tenang kembali.

Dirumah, saya pun melinggihkan tirtha tersebut di kamar suci. Dan sampai sekarang masih ada dirumah dan kadang saya campur dengan air suci lainya dengan terlebih dahulu melakukan ritual seperti biasa.

Bagaimana dengan cincin yang tersedot. Menurut Pak Dewa, memang disekitar Alas Purwo, medan magnet gaib sangatlah kuat. Dan menurut penuturan Pak Dewa perbedaan antara alam nyata dengan alam gaib disana sangatlah tipis. Jadi kita para peziarah spiritual ke tempat tersebut haruslah ekstra hati-hati dan senantiasa menjaga sikap, pikiran dan perbuatan kita. dan menurut Pak Dewa, "para penguasa" atau yang mbaurekso alas purwo amatlah pemurah. Dan penulis saksikan sendiri dirumah Pak Dewa ada berbagai macam benda-beda aneh yang beliau dapatkan disana tanpa sengaja dan ada orang gaib yang memberikan. Seperti keris kecil, bambu tanpa ruas, dll. Yang semua itu menurut Pak Dewa dibiarkan begitu saja karena beliau tidak pernah minta. Itu mungkin karunia Tuhan yang sewaktu-waktu bisa diambil karena semua bersifat sementara.

Read more...

Catatan Menjelang Pesta Kesenian Bali 2009

>> Thursday, May 28, 2009

Kehidupan berkesenian di Bali tercatat dari dulu sudah mendarah daging dalam setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali. Seni, begitu menyatu dalam setiap tarikan nafas kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang dan entah sampai kapan. Yang jelas, eksistensi seni dan budaya yang ada di Bali terbukti mampu menebar aroma harum seluruh pelosok dunia. Bali demikian terkenal ke seluruh dunia.

Salah satu perhelatan akbar yang memayungi kreatifitas seni orang Bali salah satunya adalah Pesta Kesenian Bali(PKB). Dalam pelaksanaannya yang setiap tahun, biasanya terdapat tema sentral dan sub tema yang menjiwai pelaksanaan secara keseluruhan. Biasanya berbagai acara seni digelar, mulai dari sarasehan seni & budaya, pertunjukan, seminar, pawai seni dan lain-lainnya. Pesertanya tidak terbatas dari Bali saja. Tidak hanya propinsi lain di Indonesia yang ikut berpartisipasi, bahkan pesertanya pun berasal dari negara-negara seperti Thailand, China, Korsel, Jepang, Amerika Serikat, dan lain-lainnya.

Salah satu tontonan menarik selama pesta seniman ini digelar adalah pawai seni yang biasanya dipentaskan pada saat pembukaan acara. Betapa gegap gempita para penabuh, penari dan penonton berjubelan di alun-alun lapangan puputan margarana Renon(Kompleks Monumen Bajra Sandhi). Memang, seni yang diramu secara apik akan menjadi sebuah magnet luar biasa dalam menarik orang untuk datang dan berpartisipasi. Untuk skup Bali, peranan lembaga kampus seperti ISI(Institut Seni Indonesia) demikian pentingnya. Sebagai institusi seni, ISI selama ini haru diakui peranannya sangat besar dalam menyuplai orang-orang dan produk-produk seni baik untuk Bali maupun tingkat nasional. Dan ini, diakui pula oleh para penggiat seni dari belahan dunia yang lain. Sampai mereka( negara-negara lain tsb), mengirimkan wakilnya untuk belajar di ISI Denpasar.

Selain pawai seni, dalam PKB ini, biasanya tiap malam secara terjadwal, terdapat berbagai pertunjukkan kesenian yang dipusatkan di Art Centre Denpasar. Taman Budaya Denpasar selama hampir dua dasa warsa menjadi saksi bisu berbagai perhelatan akbar seni dan budaya dipertontonkan disana.

STIGMA YANG TAK KUNJUNG HILANG

Ada beberapa catatan penting yang perlu kiranya diperhatikan oleh pemerintah daerah bali beserta seluruh jajaran terkait. Bahwa image PKB dari tahun ke tahun ada sesuatu yang susah diubah, yakni, kesan bahwa PKB tak ubahnya seperti pasar malam!Yang kerap kali menyisakan berbagai persoalan seperti kemacetan, sampah yang menumpuk, penjual barang dan jasa yang tidak pernah tertib dan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Kesan PKB adalah pasar malam begitu kuat tatkala melihat demikian banyaknya pedagang yang berusaha mengais rejeki baik didalam maupun diluar areal Art Centre. Memang, seperti pengamatan penulis tahun lalu lewat media massa, para pedagang sudah berusaha ditertibkan dengan menempatkan mereka di los-los yang sudah disediakan. Namun, masih saja terjadi tumpukan pedagang pada titik tertentu. Salah satu ide untuk mencairkan konsentrasi pengunjung dan pedagang dengan melebarkan sayap penampungan parkir, di beberapa desa adat seperti Banjar Bengkel, Sumerta kelod, Seputaran Nusa Indah dll, sudah dilakukan dengan sangat maksimal oleh Desa Pekraman dan Sekehe Teruna. Namun tetap saja, belum menyelesaikan persoalan. Salah satu ide yang pernah terlontar dan patut dicoba adalah dengan menggilir pelaksanaan PKB propinsi ke kabupaten/kota yang tersebar di Bali. Dengan catatan, pembiayaaan tetap dari propinsi dan pusat sedangkan Kabupaten/kota hanya sebagai penyelenggara saja. Hal ini patut dicoba dengan meniru pelaksanaan Porda(pekan olah raga daerah) yang digilir ke kabupaten ke kabupaten/kota. Atau kalau dipetakan, bisa saja pelaksanaannya "dikeroyok" misalnya Kabupaten Buleleng join dengan Kabupaten lain terdekat, Bangli-Klungkung-Karangasem bisa gabung untuk menjadi tuan rumah. Badung-Tabanan-Gianyar-Denpasar digabung jadi satu. Yang jadi persoalan kalu hal ini dilakukan adalah antara kabupaten Jembrana dan Buleleng yang letaknya cukup jauh dengan kabupaten lainnya di Bali. Namun, hal ini bisa diakali dengan mengkhususkan pelaksanaan PKB keliling ini di dua kabupaten tersebut. Artinya, dalam satu waktu, di dua kabupaten tersebut diadakan tersendiri.

KEUNTUNGANNYA

Secara kuantitas dan kualitas seni pertunjukan dan lomba akan terjadi kompetisi yang berimbang antara satu kabupaten dengan kabupaten/kota yang lainnya. Disisi ekonomi, akan terjadi pemerataan peredaran uang, tidak hanya numpuk di Denpasar saja. Dan yang paling penting adalah, bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat untuk menghargai dan memperhatikan nasib para seniman. Jangan hanya puas ketika mengangkut para seniman tersebut dengan truk-truk sapi dan dibayar murah. Harus ada alokasi dana yang cukup dalam upaya memperhatikan kehidupan para seniman-seniwati yang rela ngayah demi berlangsungnya sebuah hajatan seni dan melestarikan seni itu sendiri.

HARAPAN

Semoga Pesta Kesenian Bali tahun ini dapat berjalan dengan baik, lancar dan tertib dan berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Padepokan Pesanggrahan Keramat, Penghujung Mei 2009


Satria Madangkara


Read more...

Tradisi Mesatua Bali, Kearifan Lokal Nan Kian Punah

>> Saturday, May 23, 2009

Penulis masih ingat ketika masa-masa kecil dulu, kira-kira awal tahun 80-an, orang tua penulis, terutama Bapak, begitu gemar mesatua siap selem dan Ketimun Emas. Teringat betapa ketika itu penulis bersama saudara-saudara yang lain begitu tertegun tatkala mendengar cerita tentang Siap selem yang penuh dengan nilai-nilai kasih sayang keluarga dan pengenalan tentang sifat baik dan buruk. Bagaimana sekarang?

Indonesia yang sarat dengan adat dan istiadatnya, juga memiliki berbagai jenis cerita rakyat yang penuh dengan pesan-pesan kearifan. Sebut saja di Bali, ada ratusan macam cerita rakyat seperti: Cerita Siap(ayam) Selem(hitam), ketimun Mas, I Bawang & I Kesuna, Cupak & Gerantang, dan lain-lainnya. Di daerah lain, seperti Padang, Sumatera Barat, ada cerita Malin Kundang. Biasanya, cerita-cerita itu, dituturkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya menjelang tidur ataupun pada saat santai sore dirumah.

Penulis sendiri mengalami hal ini. Dimana orang tua penulis dulu sering bercerita tentang Siap Selem menjelang tidur. Sekilas ceritanya begini:"Ada cerita, seekor ayam betina bernama I Siap Selem( Si Ayam Hitam Betina), dia mempunyai anak cukup banyak, I Siap selem ini adalah tipikal ibu yang sangat protektif terhadap anak-anaknya dan juga sangat cerdik. Anaknya yang paling bungsu bernama I Ulagan(Si tanpa Bulu). Keluarga Ayam ini mempunyai musuh abadi bernama Men Kuwuk(Rubah;Lubak). pada suatu hari, keluarga ayam ini berkelana mencari makan sampai sore hari, tanpa dinyana, mereka tersesat dan pada saat itu hujan dengan lebat. Rombongan keluarga ayam yang berjumlah 7 orang termasuk si bungsu Ulagan, tersesat dalam sebuah hutan, mereka tiba didepan sebuah rumah yang ternyata adalah rumah Men Kuwuk(Si Lubak), Rubah adalah binatang yang gemar memangsa ayam. Mendapat tamu yang adalah mangsanya, tentu saja Men Kuwuk dan family girang bukan kepalang, Mereka mempersilahkan keluarga ayam untuk menginap di rumah mereka. Tapi, ternyata Si Siap Selem, sudah waspada dengan kebaikan Men Kuwuk. Karena dia tahu sepak terjang Si Lubak terhadap kaum ayam. Dan masing-masing nich..sudah pada atur strategi, Si Lubak dengan strategi santap malam daging ayamnya sedangkan Si Ayam Hitam dengan strategi melindungi anak-anaknya dari dingin dan derasnya air hujan tapi juga memasang jebakan untuk Lubak & family. Singkat cerita, hujan sudah reda, belakang rumah tempat keluarga ayam berlindung, keluarga ayam sudah menyiapkan rencana. Mereka akan kabur dari rumah Si Lubak dan memasang jebakan batu. Di bagian lain, Si Lubak dan anak-anaknya sudah siap-siap mengintai dan menerkam mangsa lezat di rumah mereka.

Malam yang mencekam, Si ayam hitam sudah mengintruksikan anak-anaknya untuk satu persatu kabur dari rumah Si Lubak. pertama yang paling sulung, karena mempunyai sayap disuruh terbang melompati pagar rumah Si Lubak. Terdengarlah suara, Blurrrr...kedubrakkk...Si Lubak berteriak dari balik kamar, hey Siap Selem apa itu? Dijawab Siap selem, Oh itu ada buah kelapa jatuh, Si Lubak manggut-manggut aja(dalam pikirannya dia ingin memastikan keluarga ayam tertidur semuanya. Demikian seterusnya, satu persatu,anggota keluarga ayam terbang melarikan diri pada malam itu. Sedangkan jebakan berupa batu-batu hitam, juga telah disiapkan menyerupai onggokan ayam tertidur. Ternyata, Si kecil bungsu/Si Ulagan yang tidak punya sayap, tidak bisa ikut menyelamatkan diri. Sang Ibu, dengan berat hati memberi pesan pada si Ulagan untuk menggunakan kecerdikannya untuk menipu para Lubak yang kelaparan. Semua anggota keluarga ayam hitam sudah berhasil menyelamatkan diri, tinggal si Ulagan saja dengan gagah berani menunggui jebakan yang mereka buat. Dan, di sisi lain, seluruh anggota keluarga Lubak sudah semakin mendekat, siap menerkam di suasana gelap gulita itu, tapi sebelum itu Si Lubak mengetes dulu apabila seluruh keluarga ayam sudah tertidur, Si ayam hitam dipanggil-panggil, ayam hitam, ayam hitam! Tidak ada jawaban,ayam hitam, ayam hitam! Lagi tidak ada jawaban. Akhirnya disimpulkan seluruh keluarga ayam sudah tertidur, Semua anggota Lubak pun menyerbu dan melompat ke tempat keluarga ayam. Dannn......ternyata mereka semua menerkam batu-batu hitam yang dikira ayam tersebut. Apa yang terjadi? Karena para Lubak menerkam batu, jadinya, gigi mereka pada tanggal semua, giginya copot! Si Ulagan yang melihat kejadian itu, tidak bisa menahan tawa, karena para lubak garang yang ada didepannya pada tidak punya gigi sama sekali. Lubak-lubak itu meringis kesakitan. Si Ulagan pun bernyanyi,Ngik..Ngik Ngak Gigi Pungak Ngugut Batu( Ngik Ngik ngak, Giginya nerkam batu)".

Demikian seklumit kisah Siap Selem yang sering penulis dengar dulu. Apa kira-kira pesan dari cerita itu? Secara umum, anak-anak dipesankan untuk senantiasa bersikap baik dengan mendengar nasehat orang tua dan tidak boleh serakah. Karakter yang baik ditunjukkan oleh anak-anak ayam yang selalu patuh dengan nasehat ibunya, sedangkan karakter jahat diperankan keluarga Lubak yang serakah, loba.

Dewasa ini, tradisi mesatua Bali sudah sangat jarang berkumandang bahkan di desa-desa sekalipun. Hal ini tidak mengherankan, seiring kemajuan zaman dan teknologi, anak-anak sudah dapat menonton TV, video dan lainnya. Tak jarang, tontonan audio visual tersebut, malah berefek negatif terhadap perkembangan masa tumbuh anak baik secara fisik maupun psikologis. Tengok saja, kasus-kasus smack down, pelecehan seksual, pencabulan dan tawuran antar remaja, diakui atau tidak ini adalah salah satu efek domino dari siaran-siaran kekerasan dan seksualitas yang berlebihan di media.

Di Bali, cuman segelintir orang yang kini peduli dengan tradisi satua Bali. Mereka dapat di hitung dengan jari. Sebut saja, Made Taro. Lelaki yang konsen membina sanggarnya, Teater Kukuruyuk ini, begitu bersahaja dalam membina anak-anak dengan permainan tradisional dan cerita rakyat.

Apa Sich Keunggulan Tradisi Mesatua?

Secara umum, tradisi mesatua Bali yang dituturkan oleh para orang tua pada anaknya akan terlihat dari perilaku anak tersebut sehari-harinya, apalagi ditambah dengan gaya bertutur yang baik, diterima anak, ada respon dari mereka maka akan ber-efek pada kemampuan mentalnya dalam membedakan baik dan buruk. Jadi saran penulis, seiring perkembangan zaman, anak-anak zaman sekarang, harus sering-sering diberikan cerita-cerita yang menggugah kesadaran mereka akan pentingnya cinta kasih terhadap sesama dan mahluk lainnya. Tidak menjadi soal apabila cerita-cerita itu disisipi dengan cerita tentang tontonan yang ngetren sekarang, seperti dora emon, Sun Gokhu, Dora, dan lain-lainya.

Salam Mesatua Bali,

Pesanggrahan Keramat, May day May day!

Read more...

Tirtha Yatra Ke Alas Purwo, Yukkk!

>> Monday, May 18, 2009

Pada suatu waktu medio tahun 2007, penulis tanpa sengaja mendapat kesempatan diajak bertamasya spiritual ke Pura Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur. Banyak hal "berkesan" yang penulis dapatkan. Apa aja itu?

Penulis, pada suatu pagi ditelpon oleh mantan dosen waktu kuliah dulu, sebut saja namanya Pak Dewa, mengajak penulis untuk ikut bersembahyang ke Jawa, yakni tepatnya Pura Alas Purwo, Banyuwangi Jatim. Wah, tentu ibarat gayung bersambut, penulis tanpa ragu meng-confirm ajakan ini. Cool man!

Singkat cerita dalam perjalanan jam 9 pagi meluncur dari Denpasar, kami berempat saja. Penulis, Pak Dewa, dan dua orang temannya. Ternyata rute persembahyangan pertama adalah Pura Agung Blambangan.

Pura Agung Blambangan

Pura ini terletak di tengah perkampungan, penulis lupa nama desanya. Namun sangat megah dan komplit apalagi dilengkapi dengan sarana MCK yang lebih dari memadai. Ada sekitar 10an lebih kamar mandi. Sebelum sembahyang, penulis beserta rombongan menyempatkan diri mandi disana. Sungguh segar! Plus, acara berikutnya mandi spiritual di utamaning mandala Pura Agung Blambangan. Habis sembahyang, kami kemudian mengguyur kerongkongan dengan dua teguk kopi manis, penulis sendiri memilih teh manis khas blambangan tuk melepas dahaga. Sungguh, nikmat Tuhan luar biasa! Suksme Hyang Widhi.

Pura Giri Waseso(Wisesa?)

Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pura selanjutnya, Pura Giri Waseso(Wisesa?). Letak Pura ini, lagi-lagi penulis forget. Tapi, nanti penulis janji akan cari tahu lagi. Pura ini cukup megah, terletak di sebuah ketinggian bukit. Menurut penduduk setempat, dulunya Pura ini hanyalah sebuah gundukan bukit yang setelah di gali, ternyata ada peninggalan bersejarah berupa batu-batuan Pura kuno. Setelah Pura ini direnovasi, jadilah seperti sekarang. Oiya, lingkungan sekitar pura sangat tenang khas perkampungan, suara ayam berkokok, terdengar disahuti oleh nyanyian burung-burung disekitar pepohonan di Pura ini. Kami pun bersembahyanga dengan khusyuk memuja kebesaran Hyang Widhi. Oiya, disetiap Pura yang kami kunjungi, tak lupa memohon tirtha(air suci), sebagai berkat Tuhan YME beserta isinya.

Kompleks Pura Luhur Giri Selaka(Pura Alas Purwo)

Hari sudah sore, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan ke Pura Alas Purwo, atau nama lengkap puranya Pura Luhur Giri Selaka. Terletak di wilayah Desa Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebelum memasuki wilayah Pura, kami berempat singgah dulu di Desa Tegadlimo. Wah, ternyata, Pak Dewa banyak teman disana. Salah satunya Pak Nur, yang nanti akan menemani kami masuk ke Hutan Jati Alas Purwo dimana Pura Giri Selaka berada. Kamipun berbincang sejenak dengan orang-orang Desa disana. Ada sekitar 200 KK pemeluk agama Hindu, disana. Dan yang mengagumkan pemeluk Hindu di desa yang agak terpencil ini sudah mempunyai Pura Padmasana, yang cukup megah.Ornamennya pun tidak kalah dengan bangunan Pura yang ada di Bali. Pak Nur, menjelaskan bahwa penduduk di desanya khususnya yang beragama Hindu rutin menggelar dharma shanti, persembahyangan, dan pelatihan Tri Sandya setiap sore untuk anak-anak. Hati penulis terenyuh, ketika berada dirumah Pak Nur yang teramat sederhana, dengan kesahajaannya, dia bertutur tentang kondisi desanya. Menurutnya, semangat penduduk pemeluk Hindu di desanya sungguh besar, apalagi kalau ada saudara-saudara mereka datang dari Bali, pedek tangkil ke Pura Alas Purwo, mereka tambah semangat, ujar lelaki tua ini. Singkat cerita, akhirnya kamipun mulai memasuki hutan jati yang sangat lebat. Hutan Jati ini termasuk Taman Nasional yang ditetapkan sebagai hutan lindung oleh pemerintah RI. Begitu memasuki hutan ini, tiba-tiba saja bulu kuduk penulis merinding hebat, ada perasaan aneh menyengat. Dan, seperti ada hawa aneh disekitar penulis. Mobil kijang Grand Extra yang kami tumpangi berenam(ada tambahan dua orang, Pak Nur dan temannya sebagai penunjuk jalan), melaju dengan lambat karena kondisi jalan yang rusak dan berbatu. Pelan sekali. Tiba-tiba, penulis merasakan sesuatu! Kebetulan penulis memakai cincin pemberian Ibu. Seperti ada yang menarik-narik permata cincin yang penulis pakai. Seperti disedot-sedot. Aneh! Tapu penulis mencoba tenang, sambil berdoa dalam hati. Penulis mencoba menenangkan diri. Tak tahu apa yang terjadi. Sampai penulis sempat berkirim sms ke kakak, bilang hal ini.Cincin yang penulis pake tersedot-sedot!.

Hampir satu jam lamanya terguncang-guncang diatas mobil, akhirnya kamipun sampai di Pura. Hari sudah gelap, Pak Dewa sebagai pimpinan rombongan mengajak kami singgah ke pondokan pemangku Pura. Ah, rupanya Pak Dewa usdah sering keluar masuk hutan jati Alas Purwo. Terbukti, para pemangku pura menyambutnya dengan akrab. Hawa sangat dingin karena kami ada ditengah hutan jati yang sangat lebat. Untungnya usdah ada penerangan listrik, dari sebuah generator yang katanya disumbang oleh pemedek dari Bali.

Obrolan dengan para tetua/pemangku Pura Alas Purwo pun demikian hangat ditemani Kopi manis panas. Kali ini, penulis pun ikut ngopi dengan nikmatnya. Menurut penuturan salah satu pemangku Pura(penulis lagi-lagi lupa ingatan), Pura yang sering disebut Alas Purwo, karena sejatinya memang terletak ditengah hutan Jati, Alas Purwo. Pura Luhur Giri Selaka, demikian namanya. Merupakan sebuah pura yang cukup luas. Disebelah Pura, ada Pura yang sering disebut Situs. Yaitu, Pura asal dari Pura Giri Selaka sekarang. Kamipun mulai sembahyang di Pura utama, Giri Selaka yang luas ini. Pada waktu bersembahyang, Pak Agung, teman Pak Dewa, duduk dengan sikap meditasi yang sempurna.Didepannya ada sebatang Dupa yang baru dinyalakannya. Api dupa yang ada didepannya, menyala terang, anehnya terus menyala meski angin berembus cukup kencang. Nyala Dupa di depan Pak Agung tetap belum padam. Bahkan sampai dupa nya abis, nyalanya masih berkobar. Cukup aneh juga, kalau dicerna dengan logika. Mana mungkin ya, sebuah dupa kecil mampu bertahan dari gempuran angin yang cukup kencang(Oiya, Pura ini, berhadapan dengan Laut Selatan Jawa). Sebahis sembahyang di Pura utama, kami melanjutkan sembahyang di Pura Situs. Sebuah pura teramat sangat sederhana, atau lebih tepatnya sebuah puing-puing pura kuno. Namun, jangan ditanya, aura yang terpancar, sungguh membuat bulu kuduk merinding. Kamipun sembahyang dengan khusyuk.Sehabis sembahyang, kami menggelar tikar di bawah pelinggih pura. Kamipun memilih mekemit di Pura Situs.

Ada perasaan aneh malam itu, suasana begitu sepi dan magis. Tampak, kami berenam merebahkan diri di atas tanah pura Situs. Beratapkan langit Hutan Jati, Alas Purwo. Memandang bintang dan merenungi kebesaran Tuhan. Takjub! Sepicingpun mata penulis belum terpejam, ketika Pak Dewa membangunkan rombongan tepat pukul 03.00WIB, untuk bergegas ke tujuan berikutnya. Kemana?

Goa Istana
Kamipun bergegas mepamit dari pura Giri Selaka,menuju Goa Istana. Wah tempat apa lagi ini..? Perjalanan menuju ke Goa Istana lumayan juga. Mobil kami merangkak perlahan menembus hawa dingin Alas Purwo. Sesekali kami menyaksikan binatang liar melintas didepan kami. Kadang ada Kijang, Rase, dll. "Penyakit" cincin saya kembali kambuh, terasa kembali cincin pemberian Ibu ini tersedot-sedot.Ehm..kenapa ya?

Tak lama, sampailah kami di sebuah tempat yang cukup lapang untuk memarkir kendaraan. Dan, ternyata, Pak Dewa mengajak kami berjalan kaki menembus hutan jati yang lebat ini dengan hanya berbekal senter kecil. Wow! Perjalanan mencari Goa Istana, lumayan jauh juga diantara semak-belukar dan pohon-pohon besar, kami kadang merangkak, hawa dingin begitu menggigit tulang. Kadang, suara binatang hutan terasa sangat menakutkan. Tapi , bagi penulis, yang penting adalah niat yang bersih. Pak Dewa selama perjalanan banyak menceritakan tentang Goa Istana. Menurut Pak Nur, Goa istana sering dijadikan tempat semadhi oleh para pembesar negeri ini. Sebut saja, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno sampai Presiden Soeharto. Sudah menjadi rahasia umum, kedua mantan pemimpin Indonesia ini, senang dengan kehidupan spritual jawa, yakni kejawen.

Singkat cerita, sampailah kami di goa istana. Ternyata, di goa tersebut sudah banyak para pengalap berkah, para pertapa yang melakukan ritual di goa angker tersebut. Kamipun segera menuju ke dalam goa. Pengamatan penulis, goa tersebut lumayan besar, banyak rongga-rongga, menyerupai ruangan. Dan ada sebuah altar pemujaan yang sederhana dihiasi oleh sebuah bendera merah putih (bendera RI) berukuran sedang. Kamipun kemudian bersembahyang dengan khusyuk memuja Tuhan penguasa alam semesta ini.

Nah, dalam artikel ini, ada segumpal pertanyaan, kenapa cincin saya tersedot-sedot, pengalaman gaib apa aja yang terjadi? Nantikan artikel berikutnya dengan tajuk; Kisah cincin tersedot, tirtha angker dan cambukan di perut.Hanya disini, bersama Satria Madangkara.....

Read more...

Melukat, Pembersih Jiwa, Pembasuh Raga

>> Sunday, May 3, 2009

Ada sebuah tradisi di Bali yang sampai saat ini masih bertahan dan kerap dilakukan oleh hampir sebagian besar umat Hindu di daerah pariwisata ini. Melakukan pembersihan diri dengan ritual tertentu yang kalau di Bali lebih dikenal dengan istilah melukat.

Sarana utama ritual melukat ini adalah air. Nah, air inipun bukan sembarang air. Melukat bisa dilakukan di air sungai, danau, laut, sumber air alami/kelebutan,bulakan, dan lain-lainnya. Tujuan utama ritual ini adalah menghilangkan leteh atau kotoran lahir maupun bathin. Dalam tradisi masyarakat Kejawen dikenal dengan istilah ruwatan air.

Kenapa Pakai Air?

Seperti kita ketahui bersama, air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Sampai kapanpun, air akan menjadi sumber hidup dan kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Dalam hal ritual melukat, keberadaan air adalah sebuah KEHARUSAN! Melukat tanpa air sama aja bohong. Namun lain cerita kalau melukat itu dilakukan dengan kekuatan bathin. Dalam arti melakukan pengelukatan/pembersihan dengan kekuatan niskala, dengan catatan, diperlukan tingkat jnana yang tinggi.

Tempat Melukat di Bali

1. Pura Tirtha Empul

Pulau Dewata Bali, dikenal sebagai gudangnya tempat ritual melukat, sebut saja yang paling terkenal, adalah Pura Tirtha Empul Tampaksiring, Gianyar.Di pura yang bersebelahan dengan Istana Presiden ini, terdapat beberapa pancuran yang mana setiap pancuran memiliki fungsi masing-masing. Contoh misalnya, pancuran Pengeleburan Ipian Ala, berfungsi sebagai pancuran untuk melebur efek mimpi buruk, dan lain sebagainya. Pura Tirtha Empul letaknya di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring Gianyar Bali.Kalau dari Denpasar sekitar 40km.Dan belakangan ini, pura yang memiliki legenda Mayadenawa ini, didatangi bukan hanya oleh umat Hindu, juga oleh umat lain yang ingin melakukan ritual pembersihan/melukat. Pengelukatan sangat baik dilakukan pada hari Purnama(bulan purnama) atau Tilem (Bulan mati), dsamping juga hari-hari suci Hindu-Bali seperti Kajeng Kliwon, Tumpek dan lainnya. Kenapa hari-hari tertentu?Karena diyakini pada hari-hari tersebut sebagai hari suci, sakral dan kekuatan alam semesta terakumulasi dan bisa diserap oleh manusia. Sarana apa saja yang perlu disiapkan? Bagi yang pertama kali pedek tangkil kesana, diwajibkan untuk membawa Daksina Pejati/Peras Daksina jangkep, sebagai bahan permakluman kepada kekuatan niskala yang bersemayam disana. Sedangkan bagi yang sudah sering diperbolehkan untuk membawa canang sari, atau sodaan.Sebelum ritual melukat pastikan bahwa diri anda tidak dalam keadaan "sebel" social ataupun personal bagi yang yang wanita. Dan pada saat ritual mulai para peziarah melukat ini wajib hukumnya mengenakan pakaian/kain begitu masuk ke dalam kolam pancuran. Niat yang tulus, hati yang ikhlas, segarnya air pancuran tirtha Empul, menjadi jaminan bagi anda akan "terlahir kembali"dengan jiwa dan semangat baru. So, kalau anda tertarik melukat di Pura ini, silakan datang langsung.

2. Pura Tirtha Empul Gunung Kawi, Sebatu Tegallalang, Gianyar

Pura yang satu ini, letaknya cukup jauh dari kota Denpasar, terletak di ujung utara kabupaten Gianyar, yakni di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Namun anda jangan sampai keliru, karena Pura Gunung Kawi ada dua; satunya yang di kecamatan Tampaksiring(terkenal dengan Candi Tebingnya), sedangkan yang ini, dengan kolam sakralnya yang sangat dikeramatkan. Kurang lebih sekitar 60km dari arah kota Denpasar. Menurut sejarahnya, Pura ini erat kaitannya dengan kisah perjalanan Rsi Sakti dari negeri India, Rsi Markendya(peletak dasar pulau Bali dengan menanam Panca Datu Di Besakih). Uniknya, di Pura ini, ada kolam biasa yang sering di pakai umat mandi(bukan ritual), dan kolam keramat yang menjadi tempat melukat. Ada sekitar 10 pancuran, yang seperti pancuran di Tampaksiring, juga memiliki fungsi masing-masing.
Sarana banten yang diperlukan adalah sama seperti di Tirtha Empul Tampaksiring, cuman yang membedakan, baik pemedek lama maupun baru disarankan menggunakan sarana daksina pejati.

Ada Kejadian menarik, ketika penulis melakukan ritual penglukatan ditempat ini, pada saat akan mengguyur tubuh ini pada pancuran terakhir yang terletak paling ujung, pemangku Pura,"menginstruksikan" agar penulis mengguyur diri lebih lama. Ajaibnya, begitu, penulis selesai tiba-tiba air kolam menjadi agak sedikit keruh; seperti ada buih shampoo, Pemangkunya manggut-manggut, beliau berujar"ini kotoran lahir biasa nak!, tidak apa-apa. Menurut dia, malah sering ada yang lebih parah lagi, ada yang sampai kerasukan/kesurupah begitu harus diguyur oleh air pancuran yang terakhir dan buih yang tampak bergumpal-gumpal seperti buih sabun limbah. Wow,...ajaib sekali.

Sebenarnya, masih banyak Pura-Pura di Bali yang "menyediakan"tempat melukat, seperti Pura Tamba Waras, Tabanan, Pura Lempuyang Luhur(Tirtha Tunggang, air keluar dari bambu keramat), dll. Perlu diingat 1000x pun kita melukat kalau tidak diimbangi dengan menjalankan Tri Kaya Parisudha(pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik), semua ritual diatas pastinya sia-sia belaka. Anda ingin melukat?






Read more...

Surya Sewana, Memuja Tuhan, Menghormati Alam

>> Monday, April 27, 2009

Om Radityasya Paramjyotih, Rakta Teja Namo Stute,
Sweta Pangkaja Madyaste, Baskara ya Namo Stute,

Demikian lantunan bait mantra yang sering berkumandang tatkala sang Sulinggih/Pendeta melakukan pemujaan pada pagi hari menjelang matahari terbit.Salah satu rutinitas pokok dari "pedande" atau pendeta Hindu khususnya di Bali adalah "Nyurya Sewana", yakni melakukan pemujaan dengan mengagungkan nama suci Tuhan dalam menyambut matahari terbit.

Kehidupan ritual dan spiritual di Bali amat sarat dengan makna dan simbol. Dimana semuanya itu adalah bertujuan HANYA satu. Yakni, sradha bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi. Hindu di Bali memiliki perbedaan implementatid dengan pelaksaan Hindu di tempat lain(khususnya di India). Hindu Bali dijalankan dengan mennyerap nilai-nilai budaya lokal(local genius) yang berkembang di Bali. Sebelum pengaruh Hindu(Weda) berkembang dan masuk, Di Bali sudah ada kepercayaan kuno yang sering disebut animisme(percaya dengan adanya benda, hal gaib), dsbya. Ini dibuktikan dengan adanya penemuan benda-benda prasejarah seperti Nekara perunggu di daerah Pejeng, dan bahkan baru-baru ini, di daerah Buleleng, Bali utara, ditemukan sarkopagus yang diperkirakan berumur ribuan tahun.

Berangkat dari hal diatas, maka perbedaan tatalaksana ritual kehidupan agama Hindu baik di Bali ataupun ditempat lain, bukanlah menjadi penghalang bagi umat untuk menuju-NYa. Bahkan dalam Bagavadgita disebutkan, "Dengan jalan apapun kau(umat) menuju kerah-Ku, aku(Tuhan) terima". Hindu sangat fleksible dengan perbedaan dan sangat universal. Hindu tidak mengenal penyeragaman, yang cenderung akan mematikan kreatifitas cipta, rasa dan karsa umatnya.

Terkait dengan judul diatas, Ritual Surya Sewana, dilakukan oleh para Dwijati(orang yang lahir dua kali;pertama lahir dari rahim seorang Ibu, kedua lahir dari rahim ajaran kitab suci Weda), semata-mata dilakukan demi kerahayuan jagat/baik alam mikro maupun alam semesta. Sangat mulia tugas para sulinggih ini. Tiap pagi mereka mendoakan alam semesta beserta isinya agar senatiasa damai, sentosa. Diyakini, doa-doa yang berkumandang setiap hari di Bali, mampu memberikan vibrasi/getaran positif bagi alam Bali. Seorang teman saya, yang berasal dari Jawa(agama lain),kebetulan memiliki daya linuwih menuturkan bahwa, saat perjalanannya dari jawa ke Bali, ada sebuah perbedaan yang sangat significant. Saat dia masih di daratan jawa mengendarai mobil menuju Bali, secara gaib ia melihat mahluk-mahluk gaib(roh gentayangan, dedemit, dsb), berseliweran dengan tidak ramah, ada yang dibawah jembatan, sering menganggu manusia yang lewat, dan mereka beringas. Nah sedangkan pada saat dia mulai memasuki wilayah Bali, begitu masuk daerah Gilimanuk, ada aura lain, mahluk-mahluk gaib memang banyak katanya, namun mereka sangat santun, ramah, dan anteng. Apa penyebabnya? Saya jawab, karena di Bali setiap saat kita melakukan persembahan sesaji, dan doa-doa di tempat-tempat suci/disucikan. Itukan menyembah mahluk gaib bukan Tuhan?? Nah itu pemahaman yang salah. Orang Bali melakukan ritual mebanten, memberi sesaji, dan lain-lain, secara universal memang ditujukan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa, namun di beberapa tempat tertentu ditujukan kepada alam lain, sebagai bentuk penghormatan. Bahwa kita(manusia) menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan alam tidak nyata, jadi kita harus saling menghormati.

Sandyakalaning jagat Karibia,

Read more...

Bernafas Dalam Diam, Mendiamkan Nafas

>> Sunday, April 26, 2009

Pembaca,

Sebagai mahluk Tuhan yang dibekali alat-alat tubuh yang umumnya lengkap, manusia dapat melakukan berbagai aktifitas kehidupannya secara baik dengan syarat semua alat-alat tubuhnya tersebut berfungsi dengan baik. Pada kesempatan ini, penulis akan mencoba mengulas sedikit tentang nafas dan pernafasan.

Nafas memegang peranan yang sangat penting dalam proses rotasi gerak hidup manusia dalam masa hidupnya. Tanpa nafas, manusia cenderung dapat dikatakan tidak dapat hidup. Dalam istilah bahasa sansekerta, nafas juga disebut dengan prana. Dalam bahasa mandarin sering disebut sebagai Chi. Seperti diketahui semua mahluk hidup di alam semesta ini melakukan pernafasan tanpa kecuali. Proses respirasi itu berjalan, baik secara alami ataupun buatan(khusus bagi yang sakit, dan faktor lain). Nah, pada kesempatan ini, penulis mencoba mengulas pengalaman penulis mengenai olah nafas dan pernafasan. Namun sebelumnya harus lebih jelas yang dimaksud dengan nafas adalah lebih cenderung noun/"benda"-nya. Sedangkan pernafasan lebih condong kepada proses dari nafas itu sendiri.

Menurut Prof. Suryani(ahli meditasi dari Bali), dalam bukunya Meditasi untuk Mencapai Hidup Bahagia), pernafasan menjadi hal yang sangat penting dalam hal melakukan meditasi. Lebih lanjut, dalam buku tersebut, juga diulas bagaimana melakukan teknik-teknik olah nafas yang baik. Penulis perlu garis bawahi bahwa, apa yang penulis sampaikan ini bersifat universal dan lintas keyakinan/agama. Kunci penting dalam memahami nafas dalam ulasan kali ini adalah memperhatikan nafas kita yang keluar dari hidung secara alami tanpa ada pengaturan dengan sengaja. Caranya, tatkala nafas keluar masuk, tugas kita adalah "hanya" memperhatikan saja, melalui pikiran kita.Biarkan nafas keluar masuk secara alami. Dan ini bisa kita lakukan kapan dan dimana saja. Tidak perlu waktu dan ruang yang khusus. Manfaat dari proses ini sangat banyak, diantaranya membantu membalance-kan pikiran, mengontrol emosi amarah, dan kesiapan menerima kondisi apapun. Dalam, sebuah CD tentang pernafasan, apa yang disampaikan oleh Prof. Suryani, tampaknya memiliki kesesuaian antara satu dengan yang lainnya. Dimana dalam CD yang bertajuk"Spritual Reality" tersebut juga dipaparkan bahwa nafas memegang peranan penting dalam meditasi. Disamping itu juga disebutkan bahwa, Meditasi adalah tidur(istirahat) yang sadar, sedangkan tidur adalah meditasi yang tidak berkesadaran. Apa maksudnya? Dalam hal seseorang yang tidur di malam hari, organ-organ tubuhnya memang istirahat, namun pikirannya, alam bawah sadarnya tidak, maka ada kecenderungan orang tersebut bermimpi, menggigau dsb. Hal ini dikarenakan alam bawah sadarnya masih terjaga dengan memori-memori pikiran, apakah memori baik atau buruk, tergantung orang tersebut. Sehingga, kecenderungan yang terjadi, walaupun orang tersebut kadang-kadang tidur lebih dari 8 jam, masih saja kelihatan capek/mengantuk. Sedangkan seorang meditator, karena sering bermeditasi secara baik dan benar, dia tidak perlu menghabiskan waktu untuk tidur(tidak sadar) tersebut. Logikanya, pada saat sang meditator melakukan meditasi katakanlah 10-20menit, dia merelaksasi-kan tubuhnya yang setara dengan tidur pulas 8 jam. Apalagi kemudian dia berhasil melakukan meditasi tingkat tinggi yang berhasil menyerap cosmis energy. Yakni penyerapan energi semesta(yang tersebar di alam semesta) secara teratur maka, alam kecil(mikro kosmos;sang diri) akan bersinggungan dengan alam raya(semesta) melakukan proses hukum tarik menarik secara beraturan maka yang terjadi adalah sebuah akumulasi kekuatan semesta yang sangat dahsyat. Setiap orang dapat melakukan ini, melalui sebuah proses dan latihan yang kontinyu. Dan hal ini harus dilepaskan dari dogma, istilah-istilah agama ataupun keyakinan tertentu, karena bersifat sangat universal.

Untuk melakukan hal diatas, diakui sangat sulit, apalagi bagi pemula, namun sesuai dengan judul diatas, dapat dimulai dengan cara memperhatikan nafas dalam "diam"-nya tubuh kita dan mendiamkan nafas dengan tidak mengaturkannya. Biarkan semua berjalan secara alami dalam kesadaran kita.

Shanti Selalu,

Padepokan Pesanggrahan Keramat, April 2009

Read more...

Disclaimer

Blog ini adalah milik I Made Dwija Suastana. Segala sesuatu yang termuat dalam edisi digital ini adalah merupakan sebagai bentuk pendapat pribadi dan berdasarkan pemahaman penulis terhadap segala sesuatu hal yang bersumber pada acuan-acuan tertulis, pendapat penulis lain dan atau pada artikel lain. Segala macam bentuk kritik, sanggahan yang terdapat pada artikel di blog ini, adalah sebagai bentuk pendapat pribadi, tidak bersifat final dan tidak mengikat pihak manapun. Semata-mata sebagai upaya konstruktif untuk segala sesuatu agar menjadi lebih baik. Penulis tidak dapat diganggu-gugat dalam segala macam bentuk apapun sebagai bentuk kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat dan hak asasi manusia.

  © Blogger template Webnolia by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP